Naning Nur Wijayanti A rare talkative person whose love writing the most. As SEO Content Writer at Niagahoster, she loved to share an articles about Internet of Things.

25 Contoh Website Portofolio Desain Terbaik dan Tips Membuatnya

11 min read

contoh portofolio desain terbaik dan tips membuatnya

Ibarat seniman yang memiliki galeri, cara terbaik untuk menunjukkan bakat dan keahlian para graphic designer adalah dengan website portofolio desain grafis

Begitu pula untuk sekelas digital creative agency, website portofolio desain wajib ada untuk memajang project-project dari klien.

Tujuannya, untuk memikat para klien baru, dikenal lebih luas, hingga bersaing dengan para agency kompetitor.

Jika Anda berkutat di dunia desain ingin menampilkan karya secara lebih profesional, maka pilihan tepat mampir ke artikel ini.

Di artikel ini Anda akan menemukan 25 contoh portofolio desain grafis yang bisa menjadi inspirasi. Lengkap dengan tips jitu untuk membuatnya lebih tampil maksimal.

Mari kita langsung ke pembahasannya.

25 Contoh Web Portofolio Desain

Faktanya, di jagat raya internet ada banyak sekali web portofolio, terutama yang spesifik tentang desain.

Dan soal desain tampilan atau layout website memang bebas, Anda dapat mengaturnya sesuka hati atau menggunakan template bawaan.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah hal-hal teknis agar pengunjung lebih nyaman berada website portofolio desain grafis Anda. Kriteria tersebut adalah:

  • Kecepatan website, seberapa cepat loading website walaupun berisi konten visual;
  • Navigasi, kemudahan pengunjung untuk menjelajahi website;
  • Layout, penataan seluruh konten desain atau project;
  • Kelengkapan deskripsi desain.

Nah, tak perlu bingung mencari inspirasi untuk portofolio desainer. Berikut kami pilihkan beberapa contoh portofolio desain grafis yang memiliki kriteria di atas.

1. Lenny Wen

contoh portofolio desain indonesia lenny wen

Web portofolio pertama yang bisa menjadi inspirasi adalah milik graphic designer asal Indonesia, Lenny Wen.

Jika Anda memiliki karya dengan tema seragam, maka akan sangat cocok dengan tampilan simpel layaknya katalog seperti web ini.

Selain layout, web ini juga sudah memenuhi kriteria navigasi yang oke. Pengunjung bisa dengan mudah mengakses informasi.

Misalnya, halaman about me, halaman karya ilustrasi, media sosial desainer, dll. 

Bahkan, Lenny Wen memberikan satu halaman dedikasi untuk contact form. Hal ini tentu memudahkan calon klien yang ingin bekerja sama.

2. Melissa Sunjaya

contoh portofolio desain grafis mellisa sunjaya berisi produk-produk desainnya

Masih dari Indonesia, web portofolio dari Melissa Sunjaya juga sangat apik untuk dijadikan contoh. 

Website ini dinilai sangat ramah pengunjung. Karena hanya ada dua menu di dalamnya, homepage utama langsung spesifik memajang hasil project dan satu halaman about me. 

Untuk deskripsi dan detail desain akan muncul pada halaman baru saat kita klik salah satu hasil project.

Web seperti ini cocok untuk Anda yang desainnya sudah pernah dituangkan dalam bentuk produk. Misalnya, cover buku, kaos, tas, dll.

Selain itu, kelebihan dari web ini adalah sederhana dan sangat fungsional. Sehingga memiliki kesan ringan dan cepat.

3. Enspire Studio

contoh portofolio creative agency indonesia

Web portofolio desainer selanjutnya adalah Enspire Studio. Graphic studio asal Indonesia yang karyanya kelas dunia. Seperti animasi Iron Man, Star Trek, game modeling, dll.

Web ini memiliki tampilan menu drag down, sangat cocok untuk portofolio yang memiliki beberapa jenis karya. Misalnya, animasi, ilustrasi, dll.

Keunggulan yang harus Anda catat pula adalah keunikan pada halaman about us.

Enspire Studio menggabungkan deskripsi about us dengan layanan yang mereka berikan, informasi sekolah desain, dan logo-logo klien terdahulu.

4. Rini Sugianto

porotofolio desain grafis indonesia rini sugianto

Masih dari Indonesia, web milik Rini Sugianto, animator kawakan bisa menjadi salah satu ide web portofolio Anda. 

Pengaturan sub menu pun menggunakan grafik. Jadi, alih-alih membuat pengunjung membaca menu drag down, Rini Sugianto menyuguhkan clickable image yang menampilkan halaman spesifik. 

Misalnya, menu Animation > Featured Film Works > halaman berisi kumpulan karya.

Kekurangan dari yang perlu Anda perhatikan adalah tidak adanya deskripsi desain.

Untuk karya Rini Sugianto, karena memang project yang dikerjakan sangat besar, kita pun sekali lihat langsung tahu seperti apa karyanya. Misalnya, animasi Avengers, The Hobbit, dll.

Namun, untuk Anda yang bergabung dalam suatu project besar, deskripsi yang dapat Anda tulis adalah:

  • Apa peranan Anda dalam proses desain;
  • Apa ide Anda yang digunakan dalam desain;
  • Siapa rekan dalam proses desain, dll.

5. Adhemas Batista

portofolio desain dengan award atau penghargaan

Website milik graphic designer asal Los Angeles ini mungkin terlihat sangat sederhana. Namun, penataan layout konten dan pengemasan informasi terbilang lengkap.

Nilai plus yang dapat Anda contoh dari website ini adalah pencantuman award atau penghargaan, serta konferensi atau pameran seni yang pernah diikuti. 

Tujuannya, untuk lebih mendapatkan kepercayaan klien karena jam terbang atau pengalaman yang Anda miliki.

Terbukti, Adhemas Batista mampu menggaet klien perusahaan besar, sekelas Coca-Cola, Cadbury, Google, dll.

6. Etienne Godiard

contoh portofolio desain produk etienne godiard

Ingin sesuatu yang lebih menarik? Coba kunjungi portofolio desain milik Etienne Godiard. Di sana Etienne berfokus pada hasil desainnya. Misalnya, desain packaging, logo, dll.

Menunya pun hanya ada dua, portofolio karyanya dan halaman about me. Simple bukan?

Untuk melihat hasil karyanya pun Anda hanya perlu scroll di homepage saja, dan tinggal klik gambar animasi salah satu project. 

Navigasi seperti ini memang terlihat mengesankan, namun Anda harus berhati-hati agar efek animasi ini tidak mempengaruhi faktor kecepatan.

Karena ketika di cek, baik versi mobile maupun desktop, skor kecepatan website ini tidak lebih dari 50.

uji kecepatan web portofolio desain

Baca juga: 10 Tools Gratis untuk Cek Kecepatan Website Anda!

7. Kate Moross

contoh layout portofolio desain colorful

Punya karya yang colorful? Mungkin Anda bisa mengemasnya dengan tatanan layout dari Kate Moross.

Tips untuk Anda yang memiliki karya desain colorful, gunakan background warna putih agar fokus pengunjung tidak terpecah.

Selain itu, gunakan navigasi yang simpel dan tidak terlalu banyak tulisan. Hal itu agar website tidak terkesan terlalu ramai.

Seperti yang dilakukan Kate Moross yang bahkan menggunakan font sederhana dengan ukuran sangat kecil untuk penamaan desainnya. 

Satu hal lainnya yang patut dicontoh, web portofolio desainer Kate Moross dilengkapi dengan kumpulan aktivitas lainnya dalam dunia desain.

Misalnya, interview, menjadi pembicara, atau bahkan artikel yang mengulas tentang dirinya.

8. Studio Nari

portofolio desain creative agency studio nari

Inspirasi lainnya datang dari studio NARI asal Inggris. Dengan layout simpelnya, website ini juga salah satu contoh yang memajang masterpiece tiap projectnya.

Bukan hanya layout yang simpel, tapi juga navigasi yang user-friendly. Hanya ada tiga menu, yaitu homepage, about, dan contact.

Ketiganya pun tidak ditempatkan di menu drag down seperti biasanya, melainkan di sisi kanan dan kiri layar.

Lagi-lagi, Anda akan menemukan daftar nama klien yang pernah bekerja sama, lengkap dengan deskripsi singkat.

Meski begitu, poin ini bisa Anda maksimalkan dengan beberapa tips lainnya pada bagian berikutnya di artikel ini.

9. Ping Zhu

contoh web portofolio simpel

Jika Anda memiliki konten desain yang khas, seperti mural, postmodern atau yang lainnya, mungkin bisa mencontoh Ping Zhu

Dengan layout yang rapi dan gaya desain yang relatif sama, web portofolionya menjadi lebih mengesankan. Membuat pengunjung serasa ada di galeri seni pribadinya.

Peletakkan konten desain pun tidak sembarangan. Ping Zhu dengan cerdas menata dari project yang besar terlebih dahulu.

Misalnya, Google Meet, New Yorker, dll. Hal itu sedikit banyak berpengaruh agar pengunjung menjelajahi karyanya secara lebih dalam.

10. Marco Marino

web portofolio yang fokus dengan project klien

Website milik Marco Marino ini memang terkesan elegan. Navigasinya pun memudahkan pengunjung, karena project disejajarkan rapi pada homepage.

Namun, bagi Anda yang sedang berkembang dan terus membuka diri untuk project baru, nampaknya kurang cocok untuk tampilan seperti ini. 

Karena seperti yang bisa kita lihat, yang ditampilkan Marco hanya empat project. Itupun sudah sangat fit dan pas.

Kalau ada project lagi, bagaimana? Pikirkan kemungkinan editing ulang layout, ukuran font, dll.

11. Burciaga & Co

portofolio desainer burciaga & co

Website ala Burciaga & Co ini juga mengusung kesan minimalis, hampir mirip dengan contoh portofolio desain grafis kebanyakan. 

Namun uniknya, homepage yang biasanya berisi hasil desain, kali ini difungsikan sebagai halaman about me. Lengkap dengan foto ekspresif, deskripsi singkat, tools yang digunakan, hingga jadwal kerja rutin.

Hal ini memberikan kesan bahwa pengunjung disambut secara lebih personal oleh si pemilik langsung.

12. Alan Fletcher

conth portofolio desain dengan struktur arsip sesuai kategori

Hal yang berbeda diusung oleh Alan Fletcher. Pria yang telah memiliki rekam jejak panjang di dunia desain ini mengemas karya-karyanya dalam sebuah menu arsip.

Jadi, Alan memiliki banyak cara untuk mengelompokkan hasil karyanya. Misalnya, berdasarkan tahun, sesuai konteks, genre, objek, dan tentunya daftar klien-kliennya.

Konsep seperti ini cocok untuk Anda yang sudah berkecimpung dalam dunia desain sejak lama. Atau Anda yang memiliki konsep desain yang berbeda-beda. 

13. Jean Jullien

contoh portofolio desain slideshow pada homepage

Saat mengunjungi website yang satu ini, Anda akan disambut oleh 16 slideshow desain oleh Jean Jullien

Gambar pilihan tersebut memenuhi layar homepage dan tidak ada konten lain, selain menu.

Ide yang sangat tepat untuk desain yang simpel maupun full color. Karena pengunjung langsung diberikan gambaran karakter desain dan pilihan menu yang to the point.

Selain itu, Jean juga membuat satu menu “news” untuk memberikan update aktivitasnya. Seperti, pre-order buku barunya, jadwal pameran, dll. Hal ini membuat websitenya terkesan hidup.

14. Julie Bonnemoy

contoh web portofolio desain grafis parallax

Website yang menggunakan teknik parallax ini masih terkesan simpel, elegan, dan unik. Hal itu terasa saat scrolling di homepage website. 

Anda akan dibawa ke perkenalan singkat seorang Julie Bonnemoy, deretan project masterpiece desain, hingga CTA untuk menghubungi Julie.

Tak tanggung-tanggung, halaman project juga sangat sederhana. Hanya dengan list nama klien, tapi dibungkus dengan tampilan parallax maka akan semakin cantik. Apalagi tiap project juga lengkap dengan deskripsi singkat.

Baca juga: 24+ Parallax Website Terbaik untuk Inspirasi Anda

15. Nathan Taylor

web portofolio animatif yang responsif terhadap kursor

Inspirasi unik lainnya adalah milik Nathan Taylor asal Tokyo, Jepang. Website portofolio desain ini mengumpulkan desain-desain yang interaktif dan responsif terhadap kursor.

Setiap project animasinya ditata sedemikian rupa hingga memenuhi layar website. Namun, tidak membuat website terkesan penuh dan tidak rapi. 

Tiap portofolio desainnya menyuguhkan sensasi animasi yang berbeda. Salah satu cara kreatif dalam menunjukkan karya kepada pengunjung. 

Tiap desain pun sekaligus CTA, yang ketika di klik akan membawa pengunjung langsung ke link klien.

16. Mads Burcharth

web portofolio desain dengan warna khas desainer

Website dengan warna dasar yang kalem ini milik Mads Burcharth

Ketika yang lainnya menggunakan warna putih untuk menonjolkan desain, web ini menggunakan warna salem yang ternyata malah memberikan kesan “Mads banget”. 

Hal itu bisa Anda artikan bahwa dalam membuat desain, sangat penting untuk membangun ciri khas. Beda dari yang lain tidak apa-apa, Anda bisa mengemasnya dengan icon-icon senada seperti yang dilakukan Mads.

17. Marian Bantjes

contoh layout katalog desain di web portofolio marian bantjes

Website milik Marian Bantjes ini sekilas mengadopsi layout katalog biasa. Namun, hal yang patut diacungi jempol adalah segi kecepatannya.

Kemungkinan karena size gambar yang dipajang tidak begitu besar, maka loading juga semakin cepat. 

Selain menceritakan deskripsi dirinya pada halaman about, Marian juga melengkapinya dengan:

  • Kumpulan video dari orang-orang yang mengulasnya;
  • Q&A;
  • Surat untuk murid-murid desainnya;
  • Daftar event sebagai pembicara, salah satunya acara konferensi;
  • Kumpulan buku, majalah, dan situs online yang menulis tentang dirinya;
  • Daftar acara pameran dan penghargaan yang didapatnya.

Hal ini sangat cocok bagi Anda yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Dokumentasikan semuanya untuk menunjukkan pengalaman berharga Anda.

Namun, bagi Anda yang masih berproses dapat diakali dengan membagikan pengalaman dalam bentuk blog.

Misalnya, gunakan satu halaman untuk mendokumentasikan pameran yang Anda hadiri, desain yang menjadi nominasi penghargaan, dll.

Baca juga: Cara Membuat Blog dalam 6 Langkah

18. David Shrigley

portofolio desain dengan navigasi user friendly

Jika Anda memiliki desain dalam jenis yang beragam, mungkin bisa mendapatkan inspirasi dari David Shrigley

Dengan banyaknya jenis desain, David berhasil memberikan navigasi yang tetap user-friendly dengan mengelompokkan pada menu. Misalnya, desain cover buku, portofolio klien, dll.

Di dalam menu, masih terdapat sub menu. Seperti project, poster, animasi, dll.

19. Eugene So

portofolio desain yang menampilkan project klien

Meski terkesan sama dengan website lainnya yang memajang project pada homepage, tetapi portofolio desainer Eugene So sangat terasa spesial. Anda akan disuguhkan project tiap menggulirkan kursor.

Yang patut ditiru adalah penjelasan tiap project dibuat selengkap mungkin. Mulai dari background, proses desain, desain font, hingga foto produk jadi.

Hal ini membantu klien untuk memahami cara kerja Eugene dan proses kreatifnya.

20. Vashti Harrison

menu lengkap portofolio desain

Jika Anda desainer grafis yang aktif seperti Vashti Harrison, sangat cocok menggunakan sistem menu utama yang lengkap.

Penggunaan menu drag down juga membantu pengunjung melihat struktur website dan “dimana” kelompok desain.

Misalnya, menu Buku yang dirangkum dalam satu halaman, berisi buku yang Vashti tulis dan buat ilustrasinya, atau hanya ilustrasi saja, maupun covernya saja. 

Poin yang menarik dari website ini adalah CTA yang menuju platform pihak ketiga untuk membeli karyanya. Anda juga bisa melakukan hal yang sama agar makin banyak yang menggunakan desain Anda.

21. Ashley Farrand

contoh portofolio desain logo

Anda memiliki spesialisasi membuat desain logo? Layout Ashley Farrand mungkin bisa menjadi inspirasi, loh.

Pada homepage, kita akan disuguhkan hasil desain dengan keterangan singkat, apa, dan untuk siapa desain tersebut dibuat.

Dan jika Anda memiliki keterampilan selain desain pun juga bisa menuliskannya di homepage. Misalnya, Copywriting, Web Design & Development, Branding & Identity, dll.

Selain itu, Ashley juga menuliskan testimoni tertulis dari kliennya. Dan pada akhirnya, terdapat form contact yang bisa di submit oleh pengunjung secara langsung.

Baca juga: Membuat Formulir Kontak WordPress dengan Contact Form 7

22. Annie Atkins

web portofolio desain pilihan project di menu

Ketika berkunjung ke halaman utama web Annie Atkins, kita akan disambut FAQ yang “bercerita” dari Annie. Konsep ini adalah sesuatu yang baru dan masih jarang digunakan.

Annie tetap bisa menunjukkan desain-desainnya sambil bercerita. Misalnya, ketika berbicara tentang tempat kerjanya, maka Annie menunjukkan contoh desain yang dibuatnya untuk keperluan pekerjaan.

Hal lain yang bisa dicontoh adalah navigasinya. Annie memang tidak menggunakan drop down pada menu utamanya.

Namun, pada halaman tiap menu terdapat deretan projectnya, lengkap dengan CTA ke page project masing-masing.

23. Robbie Simon

web portofolio desain dengan konsep katalog

Masih sebelas-dua belas dengan website berkonsep katalog lainnya, Robbie Simon secara sederhana memajang setiap foto karya yang telah dibuatnya.

Contohnya ketika satu gambar di klik, maka akan muncul halaman full dengan desain yang lebih lengkap. Baik itu dalam bentuk foto pameran maupun desain grafis.

Uniknya, Robbie memiliki menu “Shop” yang memungkinkan pengunjung membeli produk dengan desainnya, langsung dari website. 

Anda juga bisa kok membuatnya dengan menggunakan plugin WooCommerce. Jadi, website portofolio desain Anda memiliki fungsi lebih maksimal.

24. Jessica Hische

fitur lengkap website portofolio desain grafis

Salah satu website menarik dan terlengkap sepertinya ada pada web milik Jessica Hische. Karena di dalam websitenya terdapat beberapa hal sebagai berikut:

  • Deskripsi about me yang lengkap, meliputi nama-nama klien, penghargaan, histori pembawa materi, interview, link media sosial, dan alamat;
  • Newsletter untuk para subscriber;
  • Memiliki second menu. Contohnya, menu utama “work” yang berisi bidang Advertising, Books & Film, Editorial, dll;
  • Deskripsi desain yang lengkap. Misalnya, pencantuman review/testimoni, penghargaan, video untuk animasi, dan CTA untuk membeli;
  • Aktif membuat blog seputar desain;
  • Client email helper. Tulisan berkonsep email sebagai keterangan bagi para calon klien. Lengkap dengan filter budget dan asal calon klien, seperti Ad agency, klien umum, nonprofit, dll.

25. Gabriel Holzner

contoh web portofolio dengan katalog pameran

Inspirasi berjualan desain via web portofolio juga datang dari Gabriel Holzner. Terdapat beberapa hal yang menarik di websitenya, yaitu:

  • Halaman portofolio project dengan layout sederhana, lengkap dengan video pameran dan deskripsi singkat;
  • CTA yang berbeda untuk tiap kebutuhan klien. Misalnya, ilustrasi, mural, live arts, dll;
  • Adanya subdomain khusus untuk toko online yang menjual produk dengan desainnya;
  • Adanya fitur sign up dengan newsletter;
  • CTA contact yang langsung otomatis menuju email.

Poin-poin di atas tampaknya menarik jika ada di website portofolio Anda.

10 Tips Membuat Web Portofolio Desain

Portofolio desain bukan hanya membuat website, menampilkan semuanya, dan selesai, kan? Diperlukan beberapa hal agar portofolio Anda makin memukau. Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan.

tips membuat portofolio desain

1. Membuat Website

Dari 25 daftar contoh portofolio grafis desain di atas, hanya segelintir graphic designer di Indonesia yang membuat web portofolio mereka! 

Hal ini tentu saja peluang besar karena kompetitor Anda belum begitu banyak. Lagi pula, Anda juga bisa tampil beda dibanding desainer lainnya yang hanya memajang karya di platform web portfolio umum.

Membuat web portofolio pun sama sekali tidak rumit. Anda bisa mengikuti tutorial lengkap di artikel Cara Mudah Membuat Web Portofolio yang telah kami siapkan sebelumnya.

Yang perlu diperhatikan adalah memilih hosting yang tepat penyimpanan data website Anda.

Karena dokumen visual biasanya memiliki ukuran file yang lebih besar dibandingkan tulisan biasa, maka Anda memerlukan hosting dengan unlimited disc space dan database.

Bukan hanya itu, perhatikan pula seberapa banyak traffic yang dapat ditampung. Hal itu agar website Anda mampu diakses oleh banyak pengunjung tanpa hambatan.

2. Pilih Template Portofolio

Tampilan website merupakan bagian penting, apalagi jika website portofolio desain. Karena bukan hanya konten desain saja yang akan dilihat, melainkan juga user interface website Anda.

Bagi Anda yang kurang familiar dengan coding, Anda bisa memanfaatkan template website. Tujuannya, untuk membuat tampilan lebih profesional atau sesuai karakter desain Anda secara lebih praktis.

Sebisa mungkin pilih tema yang mendukung kemudahan navigasi dan layout yang bisa merangkum karya-karya terbaik Anda.

Untuk itu, kami telah merangkum beberapa rekomendasinya di → 15+ Template Web Portofolio Terbaru.

3. Buat Halaman About Me yang Mengesankan

Halaman about me memang terlihat sepele, tapi memegang peranan sangat penting. Tidak mau kan karya-karya Anda terlihat anonim?

contoh halaman about me desainer yang kreatif

Maka, deskripsikan diri Anda secara lengkap dan kreatif. Misalnya, ceritakan histori Anda di dunia desain, tools apa yang Anda kuasai, kisah menarik, hingga cantumkan kontak yang bisa dihubungi klien.

4. Pajang Desain Masterpiece 

Tidak semua karya harus dipajang pada halaman utama web portofolio, kok. Pilih beberapa karya terbaik yang pernah Anda buat. Bisa juga display desain-desain Anda yang mendapat penghargaan, dan sebagainya.

Intinya, Anda harus membuat pengunjung jatuh cinta pada desain Anda sejak di halaman utama. 

Untuk karya lainnya seperti, project desain klien, desain yang dibuat di waktu senggang, atau desain kompetisi, dan yang lainnya bisa Anda kelompokkan menjadi menu tersendiri. 

5. Tulis Deskripsi Singkat Tiap Desain

Walau singkat, deskripsi akan membantu calon klien memahami desain Anda. Seperti cara Anda mengemas makna dalam setiap desain, alasan penggunaan warna, inspirasi, dan lain-lain.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan deskripsi seperti:

  • Kapan dan siapa klien untuk desain Anda;
  • Ditujukan untuk keperluan apa;
  • Apa alasan pemilihan warna, font, dan gaya desain tersebut;
  • Produk apa saja yang Anda desain, dll.

Contohnya seperti juliebonnemoy.com yang memberikan deskripsi singkat per project.

contoh deskripsi singkat desain grafis

6. Ceritakan Proses Desain

ilustrasi desainer grafis

Kami paham membuat desain bukan hal yang mudah. Effort dibalik sebuah desain sangat perlu diapresiasi. 

Karena membuat web portofolio desain sama dengan Anda selangkah lebih profesional. Jadi, tidak ada salahnya memberi gambaran pada klien tentang bagaimana cara Anda bekerja.

Tidak perlu Anda jelaskan step by step, cukup berikan penjelasan singkat proses desain Anda. Misalnya, dari desain coretan tangan hingga berbentuk desain jadi.

Untuk contoh, mari kita lihat eugeneso.com yang memberikan proses kerjanya.

contoh penjelasan singkat alur kerja desainer grafis

Hal ini penting agar klien tahu bahwa proses desain tidak dilakukan dalam sekejap. Klien membutuhkan keterampilan desain Anda, Anda juga mendapatkan apresiasi yang layak dari klien. 

7. Cantumkan Klien-Klien Anda

Testimoni akan membantu para calon klien untuk percaya pada kinerja Anda. Apalagi Anda bisa mengemas klien atau project secara lebih unik di web portofolio desain.

Misalnya, Anda bisa klasifikasikan desain-desain Anda berdasarkan project yang telah dikerjakan. Seperti contoh portofolio desain grafis milik Marco Morino.

cara memajang project atau klien desain grafis di web portofolio

Namun Anda baru merintis sebagai grafis desainer profesional, maka yang perlu Anda cantumkan adalah dummy desain. Anda juga bisa memajang seluruh desain non-komersial Anda.

Dengan begitu, calon klien bisa mendapatkan kesan seperti apa desain grafis yang Anda usung, dan apakah cocok dengan yang klien butuhkan.

8. Pastikan Website Mobile Friendly

Pada 2020, jumlah pengunjung web dari ponsel lebih banyak dibandingkan desktop. Itu artinya, lebih dari setengah calon klien Anda bisa saja mengakses web portofolio desain dari ponsel mereka.

mengapa website portofolio harus mobile friendly

Terlebih lagi, website yang mobile friendly lebih disukai Google. Hasilnya akan berpengaruh positif untuk proses SEO website Anda. Nantinya, kami akan bahas lebih lanjut tentang SEO, baca sampai tuntas ya.

Baca juga: 7 Alasan Anda Harus Memiliki Website Mobile Friendly

Jangan khawatir, pembuatannya pun juga tidak sulit kok. Anda bisa mengikuti Cara Membuat Website Mobile Friendly dalam 11 Langkah.

9. Perhatikan Kecepatan Website

Kecepatan website menjadi salah satu masalah utama bagi portofolio desainer.

Kenapa? Seperti yang sudah disinggung sedikit pada bagian Membuat Website, web Anda nantinya akan berisi banyak konten visual. 

Yang artinya, file yang membebani website jauh lebih besar dibandingan blog biasa. Hal itu berisiko pada loading akses website yang bisa jadi sangat berat dan lama. 

Tapi ternyata, 53% pengunjung akan kabur jika loading website lebih dari 3 detik! Untuk itu, Anda wajib mengoptimasi kecepatan website.

Semuanya sudah lengkap kami rangkum pada artikel → Website Lambat? Pahami Sebab & Solusinya agar Bisnis Selamat!

10. Optimasi Website Anda

Langkah terakhir yaitu optimasi website Anda agar dikunjungi lebih banyak orang. 

Cara yang paling ampuh adalah dengan praktik SEO. Dengan SEO, Anda bisa mengoptimasi website agar mendapatkan ranking teratas di pencarian Google.

Sehingga traffic organik meningkat dan makin banyak calon klien yang mengunjungi website Anda. 

SEO bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu semalam. Perlu adanya beberapa langkah yang konsisten. Jika Anda belum begitu akrab dengan SEO, mulailah dengan belajar SEO terlebih dahulu.

Tips tambahan, optimasi semua konten visual di website Anda bisa lebih maksimal dengan Image SEO, loh! Misalnya, deskripsi Alt Text dan Caption, menggunakan Schema Markup, dll.

Siap Membuat Web Portofolio Desain?

Bukan saatnya Anda ragu untuk membuat web portofolio!

Apalagi di Indonesia, graphic designer yang memiliki web portofolio sendiri masih bisa dihitung jari. Kompetisinya masih rendah dan Anda bisa selangkah lebih maju dibanding yang lainnya.

Sampai kapan karya Anda hanya dipajang di platform mainstream? Berdampingan dengan kompetitor Anda pula!

Sekarang, saatnya Anda membuat web yang menakjubkan agar para calon klien makin terpikat. 

Perlu dicatat bahwa kebutuhan utama website portofolio desainer adalah kecepatan dan keamanan. Keduanya, bisa Anda dapatkan di Unlimited Hosting Niagahoster sebagai “rumah” dari website Anda nantinya.

Naning Nur Wijayanti A rare talkative person whose love writing the most. As SEO Content Writer at Niagahoster, she loved to share an articles about Internet of Things.
[{"code":"","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"HOSTING100","label":"Extra Diskon 100rb ","win":true},{"code":"","label":"Belum Beruntung","win":false},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"FREESHIPPING","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"","label":"Sedikit Lagi! ","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true}]
[{"code":"","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"HOSTING100","label":"Extra Diskon 100rb ","win":true},{"code":"","label":"Belum Beruntung","win":false},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true},{"code":"HOSTING20","label":"Extra Diskon 20rb ","win":true},{"code":"FREESHIPPING","label":"Coba Lagi","win":false},{"code":"","label":"Sedikit Lagi! ","win":false},{"code":"HOSTING50","label":"Extra Diskon 50rb ","win":true}]