Bisnis Online

Conversion Rate Optimization: Pengertian dan Cara Optimasinya

Website toko online-ku rame, tapi kok penjualannya sepi, ya? Nah, kalau itu menjadi pertanyaan Anda saat ini, mulailah menerapkan conversion rate optimization (CRO) dengan lebih baik.

Apa itu CRO? Conversion rate optimization adalah upaya meningkatkan pengalaman pengunjung di website lebih menyenangkan. Tujuannya, ketika sudah nyaman, mereka mau membeli produk, atau aktivitas lainnya sesuai yang Anda inginkan.

Bagaimana caranya? Nah, di artikel ini, Anda akan mempelajarinya dengan lengkap. Bukan hanya pengertian CRO, tapi juga manfaat serta langkah melakukan optimasi tersebut di website Anda.

Mari simak lebih lanjut.

Apa Itu CRO (Conversion Rate Optimization)?

Conversion rate optimization adalah upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung yang melakukan konversi.

Nah, konversi adalah tindakan pengunjung yang sesuai dengan harapan dari pemilik website. 

Contoh konversi antara lain pengunjung membuat akun di website, berlangganan newsletter dengan memberikan data diri lengkap, hingga membeli layanan yang ditawarkan.

Sebelum menerapkan optimasi CRO, tentunya Anda harus tahu seberapa besar pengunjung yang sudah melakukan konversi (conversion rate). 

Cara menghitungnya mudah. Anda tinggal membagi jumlah pengunjung yang melakukan konversi dengan total pengunjung di sebuah halaman website, lalu dikali 100.

Selain membantu Anda mendapatkan lebih banyak pelanggan, manfaat conversion rate optimization ada banyak. Mari simak manfaat lainnya di bawah ini.

Apa Saja Manfaat Conversion Rate Optimization?

Setidaknya ada lima manfaat CRO, yaitu:

1. Meningkatkan Keuntungan

Manfaat conversion rate optimization adalah menambah keuntungan Anda. Tapi, seberapa besar keuntungan tambahan yang bisa Anda dapatkan? Supaya punya  gambaran, mari simak contoh berikut ini:

Sebuah produk Anda jual dengan harga Rp50.000. Dari seratus pengunjung website, lima di antaranya membeli produk tersebut. Kalau laba tiap produk Rp25.000, keuntungan penjualan adalah Rp.125.000 dengan conversion ratenya 5%.

Kalau Anda berhasil menaikkan conversion rate menjadi 10% saja, artinya akan ada 10 orang yang membeli produk dengan total laba bisnis menjadi Rp250.000.

Faktanya, sudah banyak contoh bisnis keuntungannya naik hingga 16% setelah melakukan optimasi pada strategi CROnya.

2. Memudahkan Anda Memahami Konsumen

Mengapa pengunjung website Anda banyak, tapi hanya sedikit yang membeli? Apakah karena deskripsi produknya kurang menarik? Atau proses checkout belanjaan rumit? 

Nah Anda harus mencari tahu penyebabnya dengan upaya conversion rate optimization. Temukanlah bagaimana pengunjung berinteraksi dengan website Anda dan apa yang mereka harapkan darinya.

Sebagai contoh, kalau pengunjung batal membeli produk di tahapan check out, bisa saja karena prosesnya ribet. Jadi, coba buatlah alur belanja lebih sederhana. Kalau perlu, lakukan beberapa ujicoba lain untuk lebih memahami kondisi proses tersebut. 

Ketika alur website bisa lebih baik, funnel marketing website tentu akan lebih efektif untuk meningkatkan konversi.

3. Mengurangi Cost per Acquisition (CPA)

Mendatangkan pengunjung website dengan menerapkan strategi marketing itu penting. Namun, lebih penting lagi untuk membuat mereka mau bertransaksi. Sebab, cost per acquisition (CPA) akan jadi lebih rendah

Kenapa bisa begitu, ya?

Katakanlah Anda mengeluarkan biaya Rp1.000.000 untuk mendatangkan 10.000 pengunjung ke halaman sebuah produk. Ternyata, ada 1.000 orang yang akhirnya membeli produk. 

Itu artinya, dengan conversion rate 10%, biaya mendapatkan konsumen (CPA) tersebut Rp1.000.

Misalkan conversion rate-nya ditingkatkan menjadi 15%, CPA-nya menjadi Rp1.000.000 : 1.500 = Rp667.  Lebih rendah, bukan?

4. Berdampak Positif Terhadap SEO

SEO atau search engine optimization adalah upaya mengoptimalkan website agar mendapatkan peringkat teratas di hasil pencarian Google.

Nah, SEO dan CRO saling memberikan dampak positif.

Penerapan SEO yang baik membuat website dapat banyak pengunjung yang sesuai dengan bisnis Anda.

Dengan melakukan CRO, pengunjung akan betah karena isi website sesuai kebutuhan mereka. Selain itu pengalaman mereka di website memuaskan.

Kesesuaian isi dan kualitas pengalaman pengunjung itu faktor yang Google pertimbangkan dalam menentukan peringkat website. Dengan begitu, peringkat website bisa meningkat.

5. Menghasilkan Pelanggan Tetap

Conversion rate optimization tidak hanya bisa meningkatkan pembelian, tetapi juga jumlah pelanggan tetap.

Contohnya, setelah melakukan pembelian pertama, konsumen bisa Anda tawarkan promo produk yang relevan. Atau, kalau produknya berupa layanan, Anda bisa mengirimkan panduan penggunaannya.

Nah, cara “memanjakan” pelanggan seperti itu penting. Namun, perlu Anda sesuaikan dengan hasil riset dalam proses CRO.

Baca Juga: Ingin Mempertahankan Pelanggan? 11+ Langkah Ini Wajib Anda Lakukan

Persiapan sebelum Melakukan Conversion Rate Optimization

Banyaknya manfaat conversion rate optimization pasti membuat Anda tidak sabar untuk segera melakukannya, kan?

Eits, sebelum itu, Anda harus tahu persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk CRO, yaitu:

1. Tools Optimasi

Hal pertama yang dibutuhkan untuk conversion rate optimization adalah tools analytics dan platform untuk testing.

Tools analytics adalah tools yang terhubung ke website dan digunakan untuk memantau data pengunjung website. Bisa berupa jumlah pengunjung, asalnya, dan aktivitas di website Anda.

Nah, dengan data yang ditampilkan tools analytics, Anda jadi bisa tahu conversion rate halaman-halaman website Anda. Otomatis, Anda juga bisa mengidentifikasi halaman apa saja yang konversinya sedikit. 

Sudah banyak tools analytics yang tersedia, termasuk Google Analytics yang gratis.

Selain tools analytics, Anda wajib menggunakan platform testing. Ini adalah software untuk melakukan A/B test (eksperimen beberapa desain website yang berbeda). Nantinya, desain website dengan lebih banyak konversilah yang digunakan.

Umumnya, platform testing sifatnya berbayar, contohnya Optimizely dan VWO. Namun, ada juga yang bisa Anda gunakan secara cuma-cuma, seperti Google Optimize.

2. Tim Optimasi

Setelah menyiapkan tools analytics dan platform testing, hal lainnya yang dibutuhkan dalam conversion rate optimization adalah tim yang sesuai. Tim ini meliputi:

  • Conversion rate optimization manager: merancang strategi CRO dan memantau pelaksanaannya
  • Data analyst: memantau data pengunjung website dan A/B test, serta menggunakan hasil analisisnya untuk mengambil keputusan
  • Web designer: membuat desain website untuk A/B test
  • Copywriter: membuat tulisan (copy) untuk website
  • Web developer: melakukan coding untuk website

Bagaimana jika bisnis Anda masih kecil dan belum memiliki peran-peran di atas? Jangan berkecil hati dulu. Anda tetap bisa melakukan conversion rate optimization dengan belajar langkah-langkahnya di bawah ini!

Baca Juga: Ingin Jadi Digital Marketer? Pelajari 7+ Skill Ini!

9+ Langkah Conversion Rate Optimization

Untuk menjalankan conversion rate optimization, Anda harus menerapkan langkah-langkah berikut ini:

Langkah 1: Tentukan Fokus Anda

Dalam melakukan CRO, Anda tidak bisa mengoptimalkan semua hal sekaligus. Anda harus menentukan masalah yang ingin diatasi terlebih dahulu, misalnya:

  • Homepage tidak menciptakan kesan pertama yang baik pada pengunjung website
  • Informasi di halaman produk kurang menjelaskan produk dengan baik, atau tidak menampilkan ulasan
  • Tombol call to action untuk mengajak pengunjung membeli, berlangganan, atau membuat akun, tidak terlihat jelas
  • Konten blog tidak sesuai untuk pengunjung website, misalnya Anda membagikan tips perawatan rambut, padahal tidak menjual produk nya.
  • Tulisan dan desain landing page gagal mendorong pengunjung untuk membeli atau berlangganan

Nah, idealnya Anda fokus di penyebab utama website kurang menghasilkan konversi. Untuk bisa menentukannya, Anda bisa bertanya:

  • Mengapa jumlah pengunjung website saya tidak meningkat?
  • Mengapa jumlah pengunjung yang buru-buru pergi setelah mengakses homepage banyak?
  • Mengapa halaman produk saya dikunjungi banyak orang tapi minim pembeli?

Agar bisa menjawab pertanyaan itu, Anda perlu tahu apa yang terjadi saat konsumen akan bertransaksi. Caranya, dengan memahami funnel marketing.

Langkah 2: Pahami Funnel Marketing Bisnis

Funnel marketing adalah tahapan yang dilalui konsumen ketika berinteraksi dengan bisnis Anda. Mulai dari mengenal bisnis Anda hingga menjadi pelanggan.

Setiap bisnis memiliki panjang funnel marketing yang berbeda. Ada yang tahapannya banyak, tetapi ada juga yang sedikit.

Contoh funnel marketing yang sederhana biasanya terdiri dari tiga tahap, yaitu:

  • Awareness: konsumen baru mengenal bisnis Anda
  • Consideration: konsumen mulai menimbang-nimbang produk Anda
  • Decision: konsumen siap untuk membeli produk Anda

Lalu, kenapa harus memahami funnel marketing dalam melakukan CRO?

Jawabannya, Anda jadi tahu hal-hal yang menghambat konversi di tiap tahap. Maka, Anda bisa menentukan strategi marketing yang lebih tepat untuk mendorong konsumen ke tahap selanjutnya.

Misalnya, Anda menemukan bahwa banyak orang berhenti di tahap consideration. Katakanlah, mereka sudah mencoba menggunakan produk secara gratis, tapi tidak berlanjut dengan membeli produk. 

Bisa jadi, penyebabnya adalah mereka tidak puas dengan kualitas produk Anda. Untuk mencari solusinya, Anda perlu melakukan survei kepada mereka yang mencoba.

Nantinya, saran dari konsumen yang tidak puas bisa untuk meningkatkan kualitas produk. Kemudian, komentar dari konsumen yang membeli bisa dijadikan testimoni positif untuk mengundang lebih banyak pembeli.

Ingin contoh optimasi funnel marketing lainnya? Simak artikel kami tentang funnel marketing.

Langkah 3: Pahami Metrik Penting yang Berhubungan

Agar conversion rate optimization lebih optimal, gunakanlah metrik untuk memantau performa strategi pemasaran Anda secara keseluruhan.

Beberapa jenis metrik yang bisa Anda gunakan, yaitu:

  • Website traffic metric: mengukur performa kunjungan website
  • Engagement metric: mengukur interaksi audiens di kanal pemasaran yang Anda gunakan
  • Conversion metric: mengukur banyaknya konversi
  • Revenue metric:  menganalisis jumlah pendapatan dari penjualan produk Anda

Lalu, bagaimana cara mengetahui metrik-metrik tersebut? Tools seperti Google Analytics cukup bermanfaat untuk memberikan informasi secara otomatis.

Misalnya contoh di bawah ini, di mana kami menggunakan website traffic dan engagement metric:

MetricsQ1Q2Q3Q4
Website Traffic MetricOverall TrafficBerapa total pengunjung website?
Channel MetricDari mana saja sumber pengunjung halaman produk Anda?
New Visitor vs Returning VisitorBerapa pengunjung baru dan pengunjung yang datang kembali ke halaman produk Anda?
Exit RateBerapa kali pengunjung mengakses satu halaman ke halaman lain, hingga meninggalkan website?
Engagement TrafficBounce RateBerapa persentase pengunjung yang meninggalkan halaman website tanpa melakukan apapun?
Average Time on PageBerapa lama pengunjung berada di halaman produk Anda?
Pageviews per SessionBerapa jumlah rata-rata halaman yang dilihat pengunjung dalam satu sesi kunjungan?
ImpressionBerapa total pengunjung yang melihat konten Anda?

Untuk mempelajari jenis-jenis metrik lebih lanjut, Anda bisa menyimak artikel digital marketing metric kami.

Baca Juga: Belajar Digital Marketing

Langkah 4: Lakukan Benchmarking Data

Kalau tadi Anda sudah mengetahui metrik yang relevan dengan bisnis Anda dan skornya, sekarang saatnya melakukan benchmarking data dengan kompetitor.

Benchmarking data adalah proses membandingkan skor metrik Anda dengan milik beberapa perusahaan lain. Tujuannya, untuk mencari tahu posisi bisnis Anda di dalam persaingan.

Untuk melakukan benchmarking data, Anda membutuhkan riset pasar. Contohnya dengan membaca statistik pasar dan melakukan survey lapangan.

Setelah itu, Anda bisa mengumpulkan hasil riset dalam sebuah tabel seperti di bawah ini:

MetricPerusahaan SayaPerusahaan XPerusahaan Y
Website Traffic MetricOverall Traffic
Channel Metric
New Visitor vs Returning Visitor
Exit Rate
Engagement TrafficBounce Rate
Average Time on Page
Pageviews per Session
Impression

Contoh tabel di atas memudahkan Anda untuk membandingkan skor metrik-metrik Anda dengan milik kompetitor. Dengan begitu, Anda jadi tahu metrik apa saja yang perlu ditingkatkan agar menghasilkan lebih banyak konversi.

Misalnya, penjualan kompetitor di industri tersebut ternyata 10% lebih banyak. Artinya, masih ada perbaikan yang bisa Anda lakukan. Misalnya:

  • Merapikan informasi produk agar konsumen paham manfaatnya
  • Menampilkan ulasan pelanggan sebagai testimoni
  • Memperjelas tombol call to action agar konsumen tidak kebingungan
  • Meningkatkan kecepatan loading halaman supaya konsumen tidak perlu menunggu

Langkah 5: Tentukan Target Sesuai Benchmark

Setelah membandingkan skor metrik Anda dengan milik kompetitor, Anda pasti tahu apa saja yang bisa ditingkatkan. Hal itu akan membantu Anda menentukan target conversion rate optimization.

Agar target Anda jelas, Anda perlu merumuskannya ke dalam poin-poin. Contohnya seperti berikut ini:

  • Tujuan utama: meningkatkan jumlah pembelian di halaman produk
  • Definisi kesuksesan: semua engagement metric lebih unggul dari kompetitor
  • Metrik kesuksesan: Bounce Rate 2%, Average Time on Page 52s, Pageviews per Session 2 pages/session, Impression 1.2M
  • Target: meningkatkan jumlah pembelian di halaman produk sebesar 15% dengan memberikan engagement yang lebih baik dari kompetitor

Langkah 6: Jalankan Solusi Terbaik

Conversion rate optimization adalah upaya jangka panjang. Namun, Anda tetap bisa menerapkan solusi terbaik saat ini untuk menaklukkan hambatan konversi, seperti: 

  • Mengoptimalkan kecepatan loading website agar pengunjung bisa memilih produk dengan lancar
  • Menerapkan copywriting yang baik agar pengunjung semakin tertarik dengan penawarannya
  • Memperjelas tombol call to action sehingga pengunjung tahu harus klik di mana untuk membeli
  • Membuat panduan checkout untuk menghindari kebingungan saat pembelian
  • Memberikan promo untuk mendorong pembelian
  • Menampilkan testimoni, review, atau trust signal lainnya untuk meningkatkan rasa percaya konsumen

Langkah 7: Pantau dan Tingkatkan Performa Website Sesuai Metrik yang Ditentukan

Kalau sudah melakukan solusi terbaik saat ini, bagaimana cara mengetahui efektivitasnya? Jawabannya, dengan melakukan conversion tracking, yaitu mengukur kinerja pemasaran secara umum.

Untuk melakukan conversion tracking, Anda membutuhkan Google Analytics untuk menampilkan metric seperti overall traffic dan bounce rate.

Setelah melakukan conversion tracking, bandingkan skor Anda dengan metrik kesuksesan yang Anda tentukan di langkah nomor 5. Misalnya, kalau bounce rate halaman produk masih lebih dari 2%, upaya optimasi Anda belum berhasil. 

Langkah 8: Lakukan Riset untuk Mendapatkan Insight Lebih Dalam

Conversion tracking saja tidak cukup mengukur CRO yang dilakukan. Anda juga harus melakukan riset perilaku pengguna di website agar tahu mengapa jumlah konversi tidak sesuai target. 

Misalnya, riset tersebut menunjukkan bahwa banyak pengunjung halaman produk tidak tahu harus klik di mana untuk membeli produk. Penyebabnya, tombol call to action “Masukkan ke Keranjang” di halaman itu kurang terlihat jelas.

Nah, ada beberapa cara riset yang bisa Anda terapkan, termasuk:

  • Heatmap
    Visualisasi tindakan pengunjung di halaman website, misalnya klik, scroll, dan gerakan kursor. Cara ini cocok untuk mengetahui elemen-elemen halaman website yang menarik perhatian pengunjung.
  • Scroll map
    Cara ini mirip dengan heatmap, tapi fokus pada seberapa jauh pengunjung menyimak halaman website. Dengan begitu, Anda jadi tahu jika ada elemen penting yang letaknya terlalu jauh di bawah halaman.
  • Visitor recordings
    Ini adalah versi lebih canggih dari heatmap. Sebab, cara ini merekam seluruh kegiatan pengunjung website dalam bentuk video.
  • Form analysis
    Sesuai namanya, cara ini digunakan untuk memantau efektivitas formulir. Jika konversi yang Anda inginkan berupa pengumpulan formulir atau pembuatan akun, form analysis adalah cara riset yang tepat.
  • Website survey
    Cara ini menggunakan pendekatan personal, yaitu meminta feedback langsung ke pengunjung website. Untuk melakukannya, Anda bisa menampilkan pop-up atau halaman berisi kolom feedback.

Agar bisa menerapkan metode-metode riset seperti di atas, Anda membutuhkan tools yang menawarkan fiturnya. Beberapa contohnya adalah:

  • VWO
  • Hotjar
  • FullSession
  • HubSpot

Semua tools tersebut berbayar, tetapi Anda bisa mendapatkan demo-nya atau mencoba gratis.

Langkah 9: Tentukan Hipotesis

Dengan data dari semua langkah di atas, Anda bisa membuat hipotesis atau dugaan sementara tentang upaya CRO.

Untuk membuat hipotesis, Anda bisa menggunakan formula: “saya percaya X akan berdampak pada X karena X”. Contohnya:

  • Saya percaya bahwa pengunjung lebih tertarik mengklik tombol call to action dengan teks perintah karena unsur ajakannya lebih kuat.
  • Saya percaya bahwa meningkatkan kecepatan situs akan mengurangi bounce rate karena informasi tampil lebih cepat.

Anda pasti akan mendapatkan beberapa hipotesis dan perlu mengujinya untuk memastikan dugaan itu benar. 

Namun, menguji semuanya sekaligus akan memakan banyak waktu dan tenaga. Oleh karenanya, Anda harus memprioritaskan hipotesis yang berdampak paling besar terhadap konversi. 

Caranya, Anda perlu membuat sistem skor dengan tiga faktor, yaitu:

  • Potensi dampak: halaman atau komponen website yang terburuk dan jika diperbaiki akan berdampak besar
  • Level kepentingan: halaman website yang paling sering dikunjungi
  • Kemudahan: seberapa mungkin halaman website tersebut dirombak atau menerapkan solusi yang ada

Nah, untuk memudahkan perbandingan skor masing-masing hipotesis, Anda bisa menggunakan tabel seperti contoh di bawah ini:

TestPotensi Level KepentinganKemudahan untuk DilakukanTotal
Hipotesis Call to Action4318
Hipotesis Kecepatan website3227

Jika melihat skor di contoh tersebut, hipotesis tentang call to action lebih penting untuk diuji dari hipotesis tentang kecepatan website. Namun, apabila skor dua hipotesis sama, Anda bisa memilih yang ingin diutamakan.

Langkah 10: Lakukan Testing

Setelah memiliki dua atau beberapa hipotesis, saatnya Anda menguji performanya masing-masing. Ada dua jenis tes yang bisa Anda gunakan untuk melakukannya, yaitu A/B test dan multivariate test.

A/B test, atau split test, adalah pengujian beberapa variasi sebuah halaman website secara bersamaan. Tujuannya, untuk melihat variasi mana yang menghasilkan lebih banyak konversi.

Kalau di multivariate test, Anda menentukan beberapa elemen halaman website dan membuat variasinya. Misalnya, Anda ingin mengubah header dan footer halaman. Kemudian, variasi-variasi itu diuji untuk mencari kombinasi elemen yang paling efektif.

Sebagai contoh, Anda melakukan A/B test untuk halaman produk. Versi A menggunakan tombol CTA bertuliskan “Beli”, sedangkan Versi B bertuliskan “Tambahkan ke Keranjang”.

Setelah menjalankan testing, ternyata versi A menghasilkan pembelian 10% lebih banyak dari versi B. Dengan demikian, Anda patut menggunakan versi A.

Nah, hasil dari pengujian tersebut bisa Anda gunakan untuk sementara waktu. Mengapa demikian? Sebab, perilaku pengunjung website akan terus berubah. Itulah alasan conversion rate optimization harus dilakukan secara berkala. 

Apa yang Perlu Dilakukan Setelah Mendapatkan Hasil Testing?

Langkah conversion rate optimization tidak berhenti di pengujian hipotesis saja. Setelah mendapatkan hasil tes, Anda wajib melakukan pengelolaan website. Tujuannya, agar pengalaman pengunjung di website tetap memuaskan.

Ada tiga jenis pengelolaan website yang bisa Anda terapkan, yaitu:

  • Pengelolaan mingguan:
    • Cek dan pastikan semua halaman dan link bisa diakses
    • Pastikan komponen-komponen website selalu update agar aman dan kinerjanya optimal
    • Jika memiliki blog, hapus komentar-komentar spam
  • Pengelolaan bulanan:
    • Pantau performa SEO website agar ranking website di Google tidak turun drastis
    • Review konten website agar informasinya tidak ketinggalan zaman
    • Cek kecepatan loading website agar pengunjung betah
  • Pengelolaan tiap kuartal:
    • Pastikan semua informasi kontak di website masih aktif agar pengunjung selalu bisa menghubungi Anda
    • Update desain website agar selalu sesuai dengan tren kebutuhan pengunjung
    • Periksa masa aktif domain website

Selain macam-macam pengelolaan itu, lakukan juga usability testing untuk mengevaluasi pengalaman pengunjung di website Anda. Yang tidak kalah penting, pantau dan evaluasi terus conversion rate Anda.

Dengan melakukan semua hal tadi, Anda dapat menemukan masalah-masalah di website sejak dini. Tentunya, ini akan mempersingkat siklus conversion rate optimization.

Dapatkan Lebih Banyak Konsumen dengan Conversion Rate Optimization!

Melalui artikel ini, Anda sudah tahu bahwa conversion rate optimization adalah upaya untuk menambah jumlah transaksi dan jenis konversi supaya bisnis Anda lebih laris.

Caranya, dengan meningkatkan pengalaman pengunjung website agar lebih nyaman. Utamanya dengan memperhatikan aspek-aspek teknis seperti kecepatan loading dan keamanan website.

Kalau dua faktor tersebut dipenuhi, upaya conversion rate optimization bisa jadi lebih mudah.

Untuk itu, Anda butuh layanan hosting yang cepa dan aman serta bisa dikelola tanpa ribet. Simple WordPress Niagahoster bisa jadi pilihannya.

Dengan server LiteSpeed Enterprise dan fitur WP Accelerator di layanan ini, website Anda akan jauh lebih cepat dari kompetitor. Selain itu, website akan terhindar dari malware yang membahayakan data konsumen berkat fitur Imunify360.

Selain itu, masih banyak fitur lain yang menunjang kualitas pengalaman pengunjung di website Anda, yatu:

  • Jaminan uptime hingga 99,9% sehingga website selalu bisa diakses online
  • Daya tampung website hingga 450 ribu/bulan
  • Kemudahan memantau statistik pengunjung website dengan Visitor Tracker
  • Kemudahan cek kecepatan website dengan PageSpeed Insights
  • Backup harian otomatis
  • Proteksi dari serangan BruteForce dan DDoS
  • Update WordPress dan semua komponennya secara otomatis

Tertarik untuk mempermudah conversion rate optimization dengan Simple WordPress? Klik tombol di bawah ini untuk mendapatkannya!

Aldwin Nayoan

Aldwin is a content writer at Niagahoster. Specializing in web hosting and WordPress, he is eager to help people uplevel their business on the internet. Apart from being a tech junkie, Aldwin likes fiction and photography.

Share
Published by
Aldwin Nayoan

Recent Posts

25 Domain Termahal di Dunia, Berapa Harganya?

Hanya dengan belasan ribu rupiah, Anda sudah bisa mendapatkan domain baru. Lalu kenapa ada orang yang membeli domain termahal sampai…

2 days ago

Apa Itu Google Domain dan Perbedaan dengan Domain Lain

Saat berselancar di internet, mungkin Anda menemukan Google Domain sebagai salah satu opsi untuk membeli domain website.  Yap, layanan yang…

2 days ago

Apa itu DOM di JavaScript? Mengenal DOM JavaScript

Jika Anda ingin mendalami JavaScript, Anda perlu tahu apa itu DOM. Yuk pelajari semua tentang JavaScript DOM di sini!

3 days ago

Perbedaan Domain dan Subdomain yang Perlu Anda Tahu

Bagi Anda yang menggunakan website pasti sering mendengar istilah domain dan subdomain. Tapi, apa ya perbedaan domain dan subdomain? Singkatnya,…

3 days ago

Apa itu Exact Match Domain: Contoh & Pengaruhnya pada SEO

Sebelum Google meng-update algoritmanya, exact match domain menjadi jalan pintas untuk meraih ranking #1 di hasil pencarian. Apa itu exact…

4 days ago

Apa Itu Inode pada Hosting? Begini Cara Ceknya!

Inode adalah salah satu aspek yang harus Anda perhatikan ketika membeli hosting. Namun, apa itu Inodes hosting? Temukan di sini!

4 days ago