Benefita Benefita is a Pisces girl. She dreams of living in the world of Harvest Moon.

Design Thinking: Pengertian, Manfaat & Contoh Penerapannya

6 min read

design thinking

Pernah mendengar istilah design thinking?

Mungkin, Anda mengira design thinking hanya bisa dipakai oleh designer untuk merancang sesuatu. Padahal, siapapun bisa mengadopsi metode ini, lho. Mulai dari individu, bisnis menengah, hingga perusahaan raksasa sekalipun.

Kenapa begitu?

Makna design thinking adalah proses penyelesaian masalah yang fokus pada pengguna (user). Jadi selama Anda menemukan seseorang terhambat dalam melakukan sesuatu, Anda bisa memecahkan masalahnya lewat design thinking.

Menggunakan design thinking, solusi yang Anda buat berdasarkan pemahaman yang matang akan masalah pengguna. Sehingga, produk pun lebih berpotensi sukses alias mampu memenuhi kebutuhan pengguna.

Eitss, itu dulu bocoran informasinya. Kalau Anda ingin mengenal design thinking lebih jauh, mari selesaikan membaca artikel ini!

Design Thinking Adalah…

Design thinking adalah pendekatan untuk memecahkan masalah yang berpusat pada pengguna. Dengan kata lain, kebutuhan pengguna menjadi prioritas utama Anda untuk menciptakan solusi.

Tapi bukan sembarang solusi, design thinking memungkinkan Anda mengintegrasikan kebutuhan manusia dengan teknologi yang memungkinkan, demi mencapai kesuksesan bisnis. 

Lalu, siapa sajakah yang membutuhkan design thinking?

Meski awalnya design thinking diperuntukkan bagi designer, ternyata metode ini juga cocok untuk:

  • Perusahaan ataupun organisasi yang ingin menciptakan produk/solusi yang sukses di masyarakat dengan risiko kegagalan minimal;
  • Pemimpin tim yang ingin meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan produk;
  • Pekerja kreatif, freelancer, atau siapapun yang ingin meningkatkan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna untuk membuat produk yang bermanfaat.

Jika Anda termasuk salah satu di atas, itu artinya Anda memang perlu memahami design thinking. Sebab, design thinking membantu Anda untuk:

  • Memahami kebutuhan pengguna dengan lebih baik;
  • Mengurangi risiko kegagalan produk;
  • Menyempurnakan produk/solusi dari waktu ke waktu;
  • Mempercepat proses pembelajaran pengembangan produk/solusi.

Sekarang, Anda makin penasaran kan dengan proses design thinking? Tenang, kami akan mengulasnya secara lengkap untuk Anda.

Elemen-Elemen dalam Design Thinking

Setidaknya, ada empat elemen dalam design thinking:

1. Fokus pada Pengguna (User-Centered)

Fokus pada pengguna adalah keharusan dalam melakukan design thinking. Artinya, apapun solusi Anda harus berpusat pada kebutuhan pengguna. Khususnya untuk menyelesaikan masalah mereka.

2. Iteratif (Iterative)

Berikutnya, iteratif atau membutuhkan proses berulang. Design thinking menuntut Anda melakukan proses berulang dalam berinovasi sampai Anda mendapatkan solusi paling optimal.

3. Kreativitas Tinggi (Highly Creative)

Dalam design thinking, Anda bebas mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan solusi terbaik. Tapi jangan lupa, setiap ide kreatif Anda harus menerapkan elemen-elemen dalam design thinking.

4. Langsung (Hands On)

Tidak hanya teori atau sketsa saja, design thinking mengharuskan Anda melakukan pengujian ide produk secara langsung. Jadi, konsep produk Anda benar-benar diluncurkan ke calon pengguna untuk melihat bagaimana efektivitasnya.

Dengan mengadopsi design thinking, Anda mampu memahami kebutuhan calon konsumen dan menciptakan solusi yang efektif. Kenapa bisa begitu? Mari ketahui manfaat design thinking.

Manfaat Design Thinking

Ini dia deretan manfaat design thinking yang sayang jika Anda lewatkan:

  • Memudahkan perusahaan memahami kebutuhan calon konsumen;
  • Meningkatkan efisiensi proses desain;
  • Membantu menciptakan inovasi baru yang berkelanjutan;
  • Mengurangi risiko kegagalan produk;
  • Menghemat anggaran perusahaan;
  • Meningkatkan pendapatan.

Faktanya, 71% perusahaan setuju design thinking meningkatkan budaya kerja mereka, dan 69%-nya mengatakan ini membuat proses inovasi perusahaan lebih efisien.

Jadi bisa Anda simpulkan, manfaat design thinking cukup meringankan beban perusahaan. Terutama saat Anda melakukan product development.

Nah pada bagian berikutnya, kami akan menjelaskan tahapan dalam proses design thinking. Sehingga, Anda bisa mempraktikkannya langsung.

5 Tahapan dalam Proses Design Thinking

Secara garis besar, ini dia tahapan dalam proses design thinking:

  1. Emphatize: memahami kebutuhan calon konsumen;
  2. Define:  mengidentifikasi masalah hingga kebutuhan calon konsumen;
  3. Ideate: mengumpulkan ide-ide solusi;
  4. Prototype: membuat model solusi;
  5. Test: melakukan pengujian terhadap solusi yang dipilih.

Lebih detailnya lagi, silakan simak penjelasan tahapan dalam proses design thinking berikut:

1. Empathize

Fokus: Memahami kebutuhan calon konsumen.

Tahap pertama, lakukan pendekatan empati atau melihat masalah dari kacamata target konsumen Anda. Tujuannya, yaitu untuk mendapatkan pemahaman tentang kebutuhan mereka. Jadi, bukan asumsi belaka.

Design thinking membantu Anda memahami kebutuhan calon konsumen

Nah, cara melakukan tahapan empati yaitu dengan melakukan riset. Riset apa sajakah itu? Silakan sesuaikan dengan konteks kebutuhan bisnis Anda:

  • Riset pasar: kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data yang berhubungan dengan target pasar;
  • Riset keyword: menentukan kata kunci apa yang cocok digunakan di blog atau website Anda. Kata kunci juga bisa dipakai untuk mengetahui informasi apa yang banyak dicari target pasar;
  • Riset produkproses mencari informasi tentang suatu produk bisnis, baik dari sisi harga, kualitas dan persaingannya.

Untuk memudahkan riset, Anda bisa memanfaatkan berbagai tools sesuai kebutuhan. Misalnya, Google Trends untuk riset tren pasar, UberSuggest untuk riset keyword, survey review produk, dsb.

2. Define

Fokus: Mengidentifikasi masalah hingga kebutuhan calon konsumen.

Setelah mendapatkan data hasil riset, identifikasi dan analisa masalah serta kebutuhan target konsumen Anda.

Saat melakukannya, ingatlah prinsip design thinking: user-centered (fokus pada manusia).

Define adalah proses design thinking untuk mengidentifikasi masalah

Nah, salah satu alternatif untuk mengidentifikasi masalah dengan tepat yaitu membuat buyer persona. Buyer persona adalah karakter fiktif yang merepresentasikan target konsumen bisnis Anda.

Kira-kira, inilah data yang Anda butuhkan untuk membuat buyer persona:

  1. Data pribadi;
  2. Tingkah laku;
  3. Kebiasaan saat berbelanja.

Dengan buyer persona, Anda lebih mudah menentukan strategi bisnis yang efektif. Sebab, masalah setiap kelompok target konsumen terpetakan dengan jelas sehingga Anda bisa membuat solusi tepat.

3. Ideate

Fokus: Mengumpulkan ide-ide solusi.

Proses design thinking berikutnya, ideate. Pada fase inilah kreativitas Anda harus bekerja. Sehingga saat melakukan brainstorming ide, banyak inovasi yang keluar.

Lalu, bagaimanakah cara brainstorming ide yang cepat dan efektif?

Design thinking dalam bisnis membantu mengumpulkan ide solusi

Nah, Anda bisa melakukan design sprint. Design Sprint adalah proses menciptakan produk dengan cepat dalam waktu lima hari. Contoh eksekusinya seperti ini:

  • Senin: memahami masalah yang terjadi ketika akan membuat sebuah produk
  • Selasa: memikirkan solusi dari masalah tersebut untuk membuat produk yang terbaik
  • Rabu: memilih salah satu solusi dari berbagai pilihan yang didiskusikan dalam tim
  • Kamis: menciptakan produk sesuai dengan solusi terbaik
  • Jumat: menguji produk yang sudah diciptakan ke konsumen

Dari sekian banyak alternatif solusi, Anda harus memilih. Untuk menentukannya, silakan pertimbangkan tiga perspektif ini:

  • Layak secara teknis: produk menjalankan fungsinya dengan baik;
  • Layak secara ekonomi: perusahaan mampu mengeksekusi ide produk ke lapangan;
  • Diinginkan oleh pengguna: produk memenuhi kebutuhan pengguna.

Jika sudah, Anda akan membuat prototype berdasarkan sketsa ide pada tahap berikutnya.

Baca Juga: Wireframe Website: Pengertian dan Cara Membuatnya

4. Prototype/Mockup

Fokus: membuat model solusi.

Setelah memiliki sketsa atau rancangan produk, kini saatnya membuat prototype ataupun mockup-nya. Nantinya, prototype/mockup ini akan Anda presentasikan ke tim.

Pertanyaannya, kenapa Anda dan tim butuh prototype/mockup?

Fungsi prototype dan mockup yaitu untuk memperjelas ide produk sehingga setiap pihak yang berkolaborasi dengan Anda lebih memahami konsep produk. Dengan begitu, eksekusi produk nantinya lebih lancar.

Lalu, apa itu prototype dan mockup? Kita akan membahas keduanya satu per satu.

Prototype merupakan sample awal produk yang dibuat untuk menguji konsep ide perusahaan.

Karena hanya model, bentuk dan materinya pun tidak harus sempurna. Yang penting, fitur-fiturnya merepresentasikan fungsi dasar rancangan Anda. Misalnya, prototype tas dari kertas karton.

contoh  design thinking berupa prototype

Kalau produk Anda berbentuk digital, seperti website, bisa juga kok dibuat pemodelannya. Caranya dengan membuat mockup.

Mockup adalah rancangan desain website yang sudah dilengkapi dengan elemen, warna, tipografi, dll. Namun, elemen dan menunya masih statis. 

contoh mockup design thinking
Sumber: Justinmind

Nah, inilah yang membedakan mockup dengan prototype. Singkat kata, mockup itu lebih sederhana daripada prototype yang cukup interaktif.

Namun, baik prototype ataupun mockup sama-sama mampu memberikan gambaran nyata terkait konsep produk yang ingin Anda wujudkan.

Dengan membuat prototype atau mockup, seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan produk mampu memahami ide Anda dengan lebih jelas.

5. Test

Fokus: Melakukan pengujian terhadap solusi yang dipilih.

Sekarang, Anda akan melakukan pengujian. Tujuan pengujian yaitu untuk melihat respons user terhadap produk yang dibuat.

Tapi sebelum ke sana, prototype/mockup yang sudah Anda buat harus dieksekusi ke bentuk yang lebih nyata. 

Bagaimana caranya? Mudah saja, silakan buat saja minimum viable product (MVP). MVP adalah produk dengan fitur dasar yang punya kegunaan tinggi, meski bentuknya belum terlalu canggih.

design thinking mengharuskan test

Beda dengan prototype/mockup, Anda benar-benar meluncurkan MVP ke pasaran. Sehingga, Anda bisa mendapatkan feedback real dari konsumen untuk membuat produk final nantinya.

Bukan produk yang kompleks, Anda bisa membuat MVP se-simple website sederhana. Saat mau membuka toko sepatu, misalnya, bisa mencoba cek sambutan pasar dengan merilis website toko online.

Nah meskipun ini adalah tahapan terakhir dari proses design thinking, bukan berarti Anda berhenti begitu saja.

Ulangi kembali tahapan ini dari awal. Tujuannya yaitu untuk melahirkan produk baru yang lebih sempurna, meng-update fitur tertentu, serta mengevaluasi fitur supaya berfungsi lebih baik.

Baca Juga: Panduan Lengkap Usability Testing Website untuk Pemula

3 Contoh Design Thinking

Seperti apakah penerapan contoh design thinking dalam bisnis? Mari belajar dari beberapa perusahaan besar ini:

1. Airbnb

website airbnb

Airbnb adalah layanan online yang menyediakan layanan penginapan. Mulai dari hotel, apartemen, sewa rumah, dsb.

Untuk memberikan customer experience terbaik, Airbnb terus meningkatkan kualitas pelayanan yang fokus pada manusia. Salah satunya lewat penguatan media visual.

Karena Airbnb paham bahwa konsumen ragu dengan gambar beresolusi rendah, perusahaan ini pun menyajikan foto-foto hotel yang apik. Mulai dari katalog yang detail, resolusi gambar tinggi, hingga deskripsi produk lengkap.

Alhasil, calon konsumen pun mendapat gambaran jelas tentang hotel meski hanya memesan via online. Tak heran, Airbnb mampu mendapat revenue hingga 3,378 miliar dan bahkan meningkat 4x lipat di tahun 2021.

Baca Juga: Perbedaan UI dan UX Beserta Contohnya (Lengkap!)

2. Halodoc

website halodoc

Contoh design thinking dalam bisnis berikutnya, Halodoc. Ini adalah aplikasi kesehatan yang melayani konsultasi hingga pengiriman obat ke rumah.

Jonathan Sudharta, CEO Halodoc, waktu itu melihat bahwa masyarakat Indonesia sulit mengakses informasi kesehatan. Selain itu, waktu tunggu di rumah sakit pun juga lama.

“Jadi kita lihat di dunia kesehatan indonesia by default banyak tantangan untuk mengaksesnya. Waktu saya lihat itu saya merasa, bisakah saya memberikan kontribusi (dalam layanan kesehatan) dengan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki.”

-Jonathan Sudharta, CEO Halodoc-

Sepanjang perjalanannya, Halodoc telah mengalami iterasi alias perubahan sebanyak 200x. Sebab, di masa awal Jonathan dan tim hanya memikirkan solusi tanpa memahami akar masalahnya.

Namun sekarang, Halodoc sudah menjadi aplikasi kesehatan digital yang sukses. Mulai dari layanan kesehatan yang makin lengkap, pengadaan website dan aplikasi yang mumpuni, dll. Tak heran, pengguna Halodoc sudah lebih dari 20 juta orang.

3. Sikat Gigi Elektrik Braun/Oral-B

website sikat gigi elektrik braun/oralb

Sikat gigi elektrik Braun/Oral-B adalah contoh design thinking produk. Perusahaan Procter and Gamble melihat bahwa kecemasan banyak orang bersumber dari cara menyikat gigi yang salah ataupun tidak bersih.

Berangkat dari masalah itu, Procter and Gamble pun mengemas solusi dalam bentuk sikat gigi elektrik. Selain memudahkan orang untuk menyikat gigi, sikat ini juga membersihkan lebih maksimal daripada yang manual.

Yuk Ciptakan Produk Inovatif dengan Design Thinking!

Design thinking adalah pendekatan untuk memecahkan masalah dengan fokus pada perspektif pengguna. Artinya, semua ide atau solusi yang Anda buat harus mempertimbangkan kebutuhan target konsumen.

Dengan melakukan design thinking, banyak manfaat design thinking menanti Anda. Terutama kaitannya dalam meningkatkan proses berinovasi perusahaan. 

Alhasil, produk yang Anda hasilkan pun menjawab kebutuhan target konsumen sekaligus bisa diterapkan oleh perusahaan.

Nah, itu tadi informasi tentang design thinking. Tapi kalau Anda masih penasaran dengan berbagai insight seputar bisnis dan pengembangan produk, yuk Subscribe Blog Niagahoster dan temukan berbagai artikel menarik lainnya!

Benefita Benefita is a Pisces girl. She dreams of living in the world of Harvest Moon.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[class^="wpforms-"]
[class^="wpforms-"]
[class^="wpforms-"]
[class^="wpforms-"]