Ilham Mubarok Ilham loves to write, trying to help people to understand about website, web hosting, and online marketing in the most convenient way.

Pengertian Cache Beserta Jenis dan Fungsinya

3 min read

cache adalah

Mungkin Anda sering melihat istilah cache di browser ketika ingin menghapus history browser. Biasanya browser juga akan menyediakan pilihan untuk memilih menghapus cache dan cookies. Kedua istilah ini seringkali tertukar di kalangan pengguna internet. Meskipun sekilas mirip, cache dan cookies adalah dua hal yang berbeda. Fungsinya pun berbeda. Berikut penjelasannya:

Apa Itu Cache?

Cache adalah proses penyimpanan sementara data atau halaman HTML dan gambar sebuah website untuk mengurangi penggunaan bandwidth dan loading server. Secara sederhana, cache adalah teknologi yang membantu menampilkan halaman website lebih cepat. Berbeda dengan cookies yang merekam jejak dan aktivitas pengguna ketika berselancar di internet.

Tanpa adanya cache proses menampilkan halaman website bisa memakan waktu lama. Oleh karena itu, agar halaman website Anda bisa loading lebih cepat, Anda harus menggunakan teknologi caching.

Ada dua kategori cache, yaitu client side caching dan server side caching. Client side caching adalah proses caching yang terjadi di browser pengguna internet. Proses caching ini dapat dikelola oleh pengguna melalui pengaturan di browser. Sedangkan server side caching adalah proses caching yang terjadi di server dan website.

Baca Juga: Pengertian dan Fungsi Cookies di Browser

Jenis-Jenis dan Fungsi Cache

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, terdapat dua kategori cache, yaitu client side caching dan server side caching. Setiap kategori caching memiliki jenis-jenis cache tersendiri. Untuk client side caching, terdapat satu jenis cache, yaitu browser cache.

Untuk server side caching terdapat enam jenis cache, yaitu:

  • Server cache,
  • Page cache,
  • Object cache,
  • Opcode cache,
  • CDN cache,
  • DNS cache.

Berikut penjelasan lengkap masing-masing jenis cache dan fungsinya:

1. Browser Cache (Client Side)

Browser cache adalah jenis cache yang paling jamak ditemui. Anda bisa menemukan jenis cache ini di pengaturan browser. Tentu Anda punya website yang sering dikunjungi sehari-hari. Dengan adanya browser cache, komputer hanya perlu mengambil data halaman website dan gambarnya pada kunjungan pertama saja. Pada kunjungan-kunjungan selanjutnya komputer hanya perlu menampilkan halaman website yang sudah disimpan sementara melalui proses caching.

Meskipun begitu, pengguna komputer juga perlu membersihkan cache dalam kurun waktu tertentu agar file cache tidak memakan banyak tempat di disk komputer. Setiap browser memiliki pengaturan masing-masing dalam pembersihan cache-nya. Anda bisa mengikuti panduan di artikel Cara Menghapus Cache Browser untuk membersihkan cache di browser Anda.

2. Server Cache

Caching pun harus dilakukan di tingkat server. Kualitas caching di tingkat server ditentukan oleh server yang digunakan layanan hosting Anda. Semakin bagus servernya, semakin bagus pula caching-nya. Untuk saat ini LiteSpeed Web Server adalah server dengan kualitas caching terbaik dibanding server-server lain.

Baca Juga: Apa Itu LiteSpeed Web Server?

3. Page Cache

Page cache adalah ketika pengunjung membuka sebuah halaman dari website. Website akan membangun halaman website yang diminta pengunjung di browser yang digunakan. Cache ini akan membantu server mengurangi PHP dan database sekaligus. Dengan adanya page cache, server menyajikan konten dari file yang sifatnya statis sehingga request (pemanggilan) juga akan jauh lebih cepat dan efisien.

4. Object Cache

Object cache adalah proses penyimpanan sementara objek di halaman website seperti gambar dan video di browser pengunjung. Jadi proses caching tidak hanya menyimpan konten teks dari halaman website saja, tetapi juga gambar dan video dalam halaman website. Dengan begitu, pengunjung tidak perlu mengunduh objek berulang kali dari server ketika mengunjungi halaman website yang sama. Jadi halaman website dan objek di dalamnya bisa ditampilkan lebih cepat. Selain itu, object cache juga tak jarang menyimpan query dari database sehingga sering disamakan fungsinya dengan database cache.

5. Opcode Cache

Opcode cache adalah proses caching untuk meningkatkan kinerja PHP. Caching opcode akan menyimpan kopian dari opcode PHP di memori server yang bisa dibutuhkan kapan saja. Dengan opcode caching, kinerja PHP bisa meningkat hingga tiga kali lipat.

6. CDN Cache

Content Delivery Network atau CDN adalah solusi bagi Anda yang memiliki pengunjung website dari berbagai belahan dunia. CDN caching memungkinkan website untuk menambahkan konten-kontennya ke ke server proxy yang bisa mendistribusikannya secara global. Dengan begitu pengunjung website Anda dari berbagai negara bisa membuka website Anda lebih cepat. Konten yang diinginkan bisa disuguhkan ke pengunjung website (visitor) dari server yang paling dekat dari lokasi visitor tersebut. Jadi, semakin dekat server-nya, semakin sedikit pula waktu yang diperlukan untuk memanggil konten tersebut.

7. DNS Cache

DNS cache adalah database sementara yang dikelola oleh sistem operasi sebuah komputer. Cache ini menyimpan catatan histori alamat IP domain yang dikunjungi oleh pengguna komputer. Namun, DNS cache yang sudah usang akan menampilkan informasi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu, Anda harus membersihkan DNS cache secara teratur. Untuk panduan cara membersihkan DNS cache di Windows, Anda dapat membacanya di artikel ini.

Pengaruh Cache untuk Kecepatan Website

Agar halaman website Anda loading lebih cepat, tidak cukup mengandalkan cache di browser yang digunakan pengguna. Selain menggunakan server dengan teknologi seperti LiteSpeed Web Server, Anda juga perlu mengaktifkan plugin caching. Kombinasi keduanya akan meningkatkan kecepatan loading website Anda secara drastis.

Salah satu solusi caching untuk website WordPress Anda adalah LiteSpeed Cache. LiteSpeed menyediakan fitur untuk page caching, object caching, hingga CDN caching. Apabila Anda menggunakan hosting dengan server LiteSpeed Web Server dan mengaktifkan plugin LiteSpeed Cache, kecepatan website Anda bisa semakin optimal. Hasil kombinasi LiteSpeed Web Server dan LiteSpeed Cache dapat Anda lihat pada grafik di bawah ini:

litespeed cache benchmark

Grafik di atas menunjukkan kombinasi LSWS dan LiteSpeed Cache meningkatkan kecepatan website yang terbaik dibanding kombinasi server dan plugin caching lainnya. Penjelasan selengkapnya dapat Anda baca di artikel Website Makin Gesit Pakai LiteSpeed.

Baca juga: Apa itu Anchor Text & Bagaimana Cara Membuatnya?

Kesimpulan

Cache adalah teknologi yang meningkatkan kecepatan loading halaman website. Dengan adanya teknologi ini halaman website bisa tampil lebih cepat karena tidak perlu mengambil data langsung dari server setiap kali halaman websitenya ditampilkan. Proses caching terjadi di dua sisi, yaitu sisi klien (pengunjung website) dan sisi server. Pemilik website bisa mengoptimalkan kecepatan website dengan mengikuti cara yang disebutkan di atas. Selamat mencoba!

6
Ilham Mubarok Ilham loves to write, trying to help people to understand about website, web hosting, and online marketing in the most convenient way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 10 =