Muhammad Ariffudin Ariffud is a career-shifting SEO Content Writer from Web Programming educational background, specializes in writing technical topics.

Angular vs React, Mana Framework yang Tepat untuk Project Anda?

8 min read

Angular vs React

Bicara front end framework terbaik, React vs Angular akan selalu jadi perbincangan. Keduanya sama-sama populer, menawarkan berbagai fitur dan keunggulan, serta didukung dua raksasa teknologi dunia (Google dan Meta).

Nah, Anda yang akan membangun project mungkin bertanya-tanya, “Mending pilih framework yang mana ya, Angular atau React?”

Tak perlu bingung, Anda sudah berada di tempat yang tepat, kok. Di artikel ini, kami akan membandingkan Angular vs React secara detail. Mulai dari kemudahan, performa, struktur project, dan banyak lagi.

Artikel ini sekaligus membantu Anda menentukan framework mana yang paling sesuai dengan kebutuhan. Penasaran kan? Simak artikel ini hingga selesai, ya!

Apa itu Angular?

Angular adalah front end framework yang ditulis dengan TypeScript, sebuah superset dari JavaScript. Framework open source ini dikembangkan sejak 2016 oleh raksasa teknologi Google.

Angular menawarkan berbagai library dan fitur menarik seperti Real DOM, Directives, dan Code Splitting. Ia dapat digunakan untuk mengembangkan project berbasis web maupun mobile.

Selain untuk membangun aplikasi milik Google seperti Assistant, Duo, dan Firebase, Angular juga banyak dipakai perusahaan besar dunia. Contohnya Nike, PayPal, HBO, Forbes, dan Sony.

perusahaan menggunakan angular

Apa itu React?

Berbeda dengan Angular, React sebenarnya bukan merupakan framework, melainkan library. Nah, library open source berbasis JavaScript ini dibangun oleh Meta (dulunya Facebook) sejak 2013 lalu.

Meski bukan front end framework murni, React tetap mampu dipakai untuk membangun website dan aplikasi mobile. Sebab, ia punya fitur khas framework seperti Virtual DOM, Library Integrations, dan JavaScript XML.

React tentu saja menjadi framework resmi untuk aplikasi besutan Meta, seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Namun, perusahaan lain seperti Netflix, Uber, dan Airbnb juga tercatat menggunakan React.

perusahaan menggunakan react

Baca juga: Wajib Tahu! 10 Front End Framework Terbaik untuk Developer

Angular vs React: Perbandingan Lengkap

Guna mencari tahu front end framework mana yang pas untuk kebutuhan Anda, kami akan membandingkan React vs Angular di delapan aspek berbeda, yaitu:

  1. Popularitas
  2. Kemudahan
  3. Kegunaan
  4. Performa
  5. Rendering
  6. Data Binding
  7. Struktur Project
  8. Tools

Mari simak perbandingan selengkapnya!

1. Angular vs React: Popularitas

Angular tergolong front end framework yang cukup banyak digunakan oleh developer. Hingga artikel ini terbit, terbukti ratingnya di halaman Github mencapai 78 ribu bintang.

Selain itu, Angular menduduki peringkat empat framework dengan jumlah pengguna terbanyak (22.96%) berdasarkan survey dari Stack Overflow

Nah, bagaimana dengan popularitas Angular di Indonesia?

Ternyata, komunitas Angular di Indonesia sudah cukup berkembang. Terbukti, mereka sudah punya halaman resmi di Medium dan Github, serta grup Facebook yang beranggotakan lebih dari 12 ribu pengguna.

Sementara itu, React ternyata punya popularitas yang jauh mengungguli Angular. Bisa dilihat, halaman resminya di Github mendapat rating lebih dari 180 ribu bintang.

Bahkan, survey Stack Overflow juga menunjukkan bahwa React adalah framework paling populer di dunia. Persentase penggunanya mencapai 40.14%. Nah, hal ini ternyata berbanding lurus dengan pengguna React di Indonesia.

Tercatat, Komunitas React Indonesia sudah memiliki website resmi, dokumentasi yang rapi, grup Facebook berjumlah sekitar 25 ribu pengguna, sampai sarana belajar yang cukup lengkap.

Kesimpulan:

Bicara popularitas React vs Angular, sudah jelas siapa pemenangnya. React terbukti lebih populer karena lebih banyak digunakan developer. Ia juga punya komunitas yang besar, baik di dalam maupun luar negeri.

2. Angular vs React: Kemudahan

Lantas, bagaimana perbandingan Angular vs React dari segi kemudahan untuk belajar? Harus diakui, Angular adalah framework yang agak sulit dipelajari oleh developer pemula.

Sebab, ia adalah framework yang luas serta dinamis. Satu bundle paket Angular terdiri dari berbagai macam Directives, Modules, Components, dan sebagainya. Jika ingin menguasai Angular, mau tak mau Anda harus mempelajari semuanya. 

Di samping itu, Angular cukup sering menerima update dari Google. Mengingat setiap update biasanya membawa perubahan dan fitur baru, Anda perlu usaha ekstra agar bisa belajar Angular dengan lebih cepat.

Hal ini bertolak belakang dengan React, yang masih lebih mudah untuk dipelajari pemula. Mengingat React adalah framework yang minimalis, ia tidak punya fitur-fitur rumit seperti Classic Templates dan Dependency Injection.

Apalagi jika Anda sudah belajar JavaScript, menguasai React akan terasa jauh lebih mudah. Tapi jangan salah, React juga menerapkan JSX, sebuah ekstensi JavaScript berbentuk XML yang lebih rumit dibanding JavaScript biasa.

Tak hanya itu, Anda wajib belajar tentang Redux Library. Sebab, library ini dipakai lebih dari setengah aplikasi berbasis React. Selain itu, ia juga rutin menerima update sehingga Anda perlu mempelajari perubahannya secara konstan.

Kesimpulan:

Dari segi kemudahan, React masih lebih cocok untuk developer pemula dibanding Angular. Pun demikian, keduanya punya tantangan masing-masing yang wajib Anda taklukkan jika ingin menjadi front end developer yang baik.

Baca juga: 10 Skill yang Wajib Dikuasai Front End Developer

3. Angular vs React: Kegunaan

Berlanjut ke kegunaan Angular vs React. Ternyata kedua framework ini ditujukan untuk keperluan yang berbeda.

Angular adalah framework yang sangat cocok digunakan untuk membangun project berskala menengah hingga besar. Sebab, ia punya semua yang Anda butuhkan untuk mempercepat proses pengembangan project, dengan kelengkapannya.

Artinya, Anda tidak perlu memasang komponen pihak ketiga setiap menambahkan fitur baru ke project yang dibangun.

PerbandinganAngularReact
KegunaanProject berskala menengah dan besarProject berskala kecil dan spesifik
Bundle paketTerdiri dari berbagai modules dan komponenTerdiri dari beberapa komponen inti
Fitur pihak ketigaTidak begitu diperlukan, karena bundle-nya lengkapDiperlukan, untuk meningkatkan fungsionalitas

Kebalikannya, React lebih cocok untuk membangun project dengan skala yang lebih kecil. Sebab, satu bundle paket React hanya terdiri dari beberapa komponen inti, seperti Redux Library.

Tapi, Redux Library ini berguna untuk mempercepat proses pengembangan project. Mengingat, ia bisa dipakai untuk mengelola proses rendering ataupun memanfaatkan elemen dinamis.

Bagaimana jika ingin memakai React untuk project besar? Sebenarnya bisa, tapi Anda perlu menginstall komponen eksternal lain untuk menambah fiturnya. Hal ini bisa menambah kerumitan dan memperlambat pengembangan project.

Kesimpulan:

Tidak ada pemenang antara React vs Angular pada aspek ini. Sebab, keduanya punya kegunaan yang spesifik. Angular untuk project berskala besar dalam ruang lingkup perusahaan, sementara React untuk project kecil yang lebih spesifik.

Baca juga: Mengenal React Native, Framework untuk Aplikasi Mobile

4. React vs Angular: Performa

Sekarang saatnya menguji performa Angular vs React. Di sini, kami menggunakan data dari website Perf Track. Website tersebut menguji performa keduanya berdasarkan beberapa metrik, seperti:

  • First Contentful Paint (FCP) – Waktu yang dibutuhkan untuk menampilkan konten pertama ke pengguna.
  • Largest Contentful Paint (LCP) – Waktu yang dibutuhkan untuk menampilkan satu halaman penuh ke pengguna.
  • Cumulative Layout Shift (CLS) – Perubahan elemen halaman (font, gambar, video) yang tak dikehendaki ketika halaman tersebut masih memuat.
  • First Input Delay (FID) – Waktu yang dibutuhkan pengguna untuk dapat berinteraksi di suatu halaman.
  • Time To First Byte (TTFB) – Waktu yang dibutuhkan halaman untuk menerima byte data pertama dari server.

Berikut ini hasil yang diperoleh Angular dalam pengujian:

performa angular dala perbandingan angular vs react

Terlihat Angular berhasil mengumpulkan skor di atas 50% untuk tiga metrik yaitu CLS, FID, dan TTFB. Artinya, ia cukup stabil dalam mempertahankan layout website ketika website tersebut sedang memuat.

Di samping itu, pengguna tidak butuh waktu lama untuk berinteraksi di halaman berbasis Angular. Responsnya juga tergolong cepat dalam memproses byte data dari server.

Sedangkan ini adalah hasil uji performa untuk React:

performa react

Berdasarkan pengujian, React sukses mendapatkan skor di atas 50% untuk empat parameter, kecuali TTFB. Lebih lanjut, skornya di tiga metrik, FCP, LCP, dan CLS mampu mengungguli Angular.

Berarti, React sanggup memuat sebuah konten atau satu halaman penuh dengan lebih cepat. Ia juga sangat stabil dalam mempertahankan elemen website agar tidak berubah ketika masih memuat.

Yang jadi catatan, React kurang responsif dalam memproses data dari server. Sedangkan waktu yang pengguna butuhkan untuk berinteraksi di halaman React hanya berselisih tipis dari Angular, sehingga bukanlah kendala berarti.

Kesimpulan:

Performa yang dihasilkan React vs Angular bisa dibilang cukup seimbang. Angular lebih unggul di waktu interaksi dan respons, sementara React selangkah lebih maju di kecepatan memuat dan kestabilan layout.

Baca juga: Next.js, Framework Penyempurna React yang Bisa Anda Coba

5. Angular vs React: Rendering

Apakah hasil pengujian Angular vs React mempengaruhi performa keduanya saat melakukan rendering server? Ternyata tidak juga. Sebab, keduanya sama-sama menerapkan server side rendering.

Artinya, proses rendering halaman dilakukan di server. Dengan begitu, pengguna tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat dan berinteraksi dengan konten di suatu halaman.

Yang jadi keunggulan, Angular memanfaatkan kombinasi JSON dan client-side caching (proses caching yang dilakukan di browser) agar halaman yang diminta pengguna dapat tampil dengan lebih cepat.

Tapi, kemampuan rendering React juga tidak kalah baiknya. Sebab, ia punya fungsi bernama RenderToString yang terbukti mampu memaksimalkan performa rendering di server.

Bahkan, ada juga fungsi RenderToMarkup yang berguna untuk menampilkan konten statis (konten di halaman muncul secara instan, tapi tidak interaktif) sembari menunggu semua fungsi bisa diakses pengguna dengan lancar.

Kesimpulan:

Kemampuan rendering Angular vs React ternyata sama bagusnya. Keduanya sudah menggunakan server side rendering dan dilengkapi beberapa fungsi tambahan untuk meningkatkan performa renderingnya.

Baca juga: Express.js, Back End Framework yang Cocok untuk Angular

6. Angular vs React: Data Binding

Data binding adalah teknik menyambungkan data yang berasal dari server menuju client lalu menyesuaikannya. Nah, React vs Angular menggunakan teknik data binding yang berbeda.

Angular adalah framework yang menerapkan data binding dua arah (Two-Way Data Binding). Two-Way Data Binding dikenal sangat efisien untuk menampilkan data dari server ke client, dan sebaliknya.

Sebab, setiap perubahan data yang terjadi di server akan berpengaruh terhadap tampilannya di client. Begitu pula sebaliknya. Jadi, Anda tidak perlu bolak balik memeriksa hasil dari perubahan yang dilakukan.

angular vs react data binding

Kebalikannya, React masih menerapkan data binding satu arah (One-Way Data Binding). Artinya, Anda hanya bisa melakukan perubahan data secara searah, dari server ke client.

Dengan kata lain, mengubah data secara langsung di client tidak bisa Anda lakukan. Hal ini tentu tidak efisien, karena Anda perlu mengakses server tiap kali ingin mengupdate data.

Tapi perlu diingat, React bukanlah sebuah framework murni. Itulah mengapa ia punya keterbatasan dari segi fitur-fitur bawaan. Di antaranya penggunaan teknik data binding yang belum sempurna.

Kesimpulan:

Di aspek ini, Angular menjadi pemenang mutlak. Sebab, Two-Way Data Binding adalah teknik sinkronisasi data paling efisien saat ini. Dan, belum ada metode lain yang bisa menandinginya.

Baca juga: Mengenal MongoDB, Database NoSQL Berbasis JavaScript

7. React vs Angular: Struktur Project

Angular adalah framework yang punya struktur project tetap. Artinya, pengembang Angular wajib mematuhi aturan yang ada ketika menggunakan Angular. Termasuk dari sisi penggunaan arsitektur dan struktur kode.

Nah, Angular ini berarsitektur MVC (Model View Controller). Dengan begitu, data pada project disimpan di Model, ditampilkan lewat View, dan dikelola melalui Model.

Angular juga punya struktur kode sendiri, yang memisahkan file berdasarkan kegunaannya. TypeScript untuk implementasi komponen, HTML untuk struktur konten, CSS untuk mempercantik tampilan, dan sebuah file khusus untuk pengujian.

Berbeda dengan React. Framework yang satu ini tidak punya struktur project yang tetap. Artinya, Anda lebih fleksibel dalam menentukan struktur project yang akan dibangun.

Di samping itu, arsitektur React tergolong sederhana. Sebab, ia hanya punya View tanpa Model dan Controller. Jika ingin menggunakan arsitektur MVC, Anda bisa menggunakan library pihak ketiga yang disediakan React.

Selain itu, struktur kodenya juga ringkas. Setiap kode di React dibentuk dari komponen. Nah, komponen tersebut dirender oleh Virtual DOM dan diarahkan dengan dua cara: fungsional melalui JSX dan berbasis Class lewat ES6.

Kesimpulan:

React vs Angular punya struktur project yang berbeda. Angular cenderung kaku tapi terorganisir. Sedangkan, React lebih fleksibel, dengan opsi menggunakan arsitektur seperti Angular lewat library tambahan.

Baca juga: Mengenal Vue.js, Framework Pesaing React dan Angular

8. Angular vs React: Tools

Perbandingan yang terakhir adalah tools yang bisa Anda gunakan. Sebagai framework berbasis JavaScript, keduanya didukung berbagai tools. Baik untuk menulis kode (coding), menguji project, sampai proses deploy ke hosting.

Untuk melakukan setup project Angular, ada tools bernama Angular-CLI. Sedangkan proses coding bisa Anda lakukan memakai text editor andalan, seperti Visual Studio Code atau Sublime Text.

Nah, Anda bisa menguji project Angular secara keseluruhan dengan tools seperti Jasmine, Karma, dan Protractor. Atau, bisa juga melakukan pengujian dengan Augury, extension untuk pengguna Chrome dan Firefox.

Sementara itu, React punya tool bernama Create-React-App (CLI) yang bisa Anda gunakan untuk setup project pertama kali. Sedangkan text editor yang bisa Anda coba kurang lebih sama seperti Angular.

Yang membedakan, Anda perlu menggunakan beberapa tools berbeda untuk menguji project React. Misalnya, Enzyme untuk menguji komponen, Jest untuk menguji hasil coding, React-Unit untuk melakukan pengujian unit, dan sebagainya.

Terakhir, keduanya memanfaatkan environment yang sama. Yaitu, Node.js untuk melakukan proses deploy di hosting. Jadi, pastikan layanan hosting Anda mendukung Node.js, agar proses deployment dapat berjalan lancar.

Kesimpulan:

Angular vs React sama-sama didukung berbagai tools untuk memudahkan proses membangun project. Mulai dari setup awal hingga mengonlinekannya ke layanan hosting.

Baca juga: Panduan Lengkap Cara Setting Node.js di Hosting

Angular vs React: Kelebihan dan Kekurangan

Nah, Anda telah menyimak perbandingan lengkap antara Angular vs React. Yang jelas, keduanya punya kelebihan, kekurangan, dan kegunaannya masing-masing. Berikut adalah rangkumannya:

Kelebihan dan Kekurangan Angular

Kelebihan dan kekurangan Angular dibanding React adalah sebagai berikut:

Kelebihan Angular:

  • Satu bundle Angular terdiri dari satu paket lengkap, tidak perlu memasang plugin pihak ketiga.
  • Menggunakan Two-Way Data Binding, sehingga proses sinkronisasi data jadi lebih efisien.
  • Struktur project lebih terorganisir, menggunakan arsitektur MVC yang populer.
  • Hanya butuh satu tools untuk menguji project secara keseluruhan.

Kekurangan Angular:

  • Kurang populer dan jumlah komunitasnya masih sedikit.
  • Terlalu luas dan kompleks, sehingga cenderung sulit dipelajari pemula.
  • Performa yang agak lambat, khususnya untuk memuat konten di suatu halaman.

Kesimpulan Akhir:

Angular adalah front end framework terbaik jika Anda developer berpengalaman. Lewat kelengkapan bundlenya, Anda bisa membangun project berskala besar dengan mudah, tanpa perlu memasang fitur-fitur pihak ketiga.

Meskipun tergolong kompleks, Angular merupakan pilihan yang tepat jika Anda bekerja dalam sebuah tim. Sebab, struktur projectnya lebih terorganisir, sehingga memudahkan proses kolaborasi ketika membuat project.

Kelebihan dan Kekurangan React

Nah, berikut ini kelebihan dan kekurangan React dibandingkan Angular:

Kelebihan React:

  • Sangat populer dan memiliki banyak komunitas, termasuk di Indonesia.
  • Ringkas dan simpel, sehingga lebih mudah dikuasai pemula.
  • Performa lebih gesit, terutama untuk memuat konten dan mempertahankan layout halaman.
  • Fleksibel, dapat menggunakan plugin pihak ketiga untuk menambah fiturnya.

Kekurangan React:

  • Kurang responsif dalam memproses byte data dari server.
  • Masih menggunakan One-Way Data Binding, sehingga proses sinkronisasi data kurang fleksibel.
  • Membutuhkan beberapa tools berbeda untuk melakukan pengujian.

Kesimpulan Akhir:

React adalah front end framework yang cocok bagi Anda developer pemula. Sebab, ia cenderung mudah dipelajari dan memiliki komunitas yang tersebar luas, baik lokal maupun internasional.

Di samping itu, React merupakan framework yang ringkas, sehingga lebih pas untuk membangun project berskala kecil. Meski begitu, ia sangat fleksibel sehingga Anda bisa menambah fitur-fiturnya lewat komponen eksternal.

React vs Angular: Mana yang Cocok untuk Anda?

Angular vs React adalah dua front end framework berbasis JavaScript yang populer saat ini. Yang jelas, keduanya memiliki kelebihan, kekurangan, dan kegunaannya masing-masing.

Angular cocok bagi developer berpengalaman untuk membangun proyek besar. Sementara React, lebih ditujukan ke developer pemula dengan kebutuhan membuat proyek berskala kecil.

Nah, Angular dan React sama-sama berjalan di atas environment Node.js agar bisa online di hosting. Untuk itu, pastikan layanan hosting Anda sudah mendukung Node.js, seperti Niagahoster.

Tidak cuma mengonlinekan project Angular atau React dengan mudah, dengan paket Cloud Hosting Niagahoster, Anda juga mendapatkan berbagai fitur pendukung yang menarik.

Mulai dari kemudahan mengelola project lewat kontrol panel terbaik cPanel, jaminan keamanan dari serangan DDoS melalui Advanced Firewall, sampai penggunaan server tercepat di dunia LiteSpeed Enterprise.

Oh ya, jangan salah! Paket Cloud Hosting Niagahoster kapasitas servernya bisa setara VPS. Jadi, project Angular ataupun React Anda mampu menampung trafik dari banyak pengunjung tanpa gangguan sedikitpun!

Tunggu apa lagi, yuk bangun project impian Anda menggunakan layanan hosting terbaik Niagahoster!

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa klik tombol Subscribe agar tak ketinggalan artikel terbaru kami. Sampai jumpa lagi!

Muhammad Ariffudin Ariffud is a career-shifting SEO Content Writer from Web Programming educational background, specializes in writing technical topics.

Leave a Reply

Your email address will not be published.