Insight Bisnis

Apa Itu Traction? Hal Penting Saat Membangun Startup

Bagi startup, pendanaan adalah salah satu faktor penting untuk bisa berkembang. Sayangnya, tidak mudah menarik hati investor, kecuali bisnis Anda dianggap menjanjikan. Nah, traction adalah sarana startup untuk menunjukkan potensi bisnisnya. 

Lalu, apakah traction hanya terkait dengan investasi? Atau, merupakan indikator untuk menunjukkan performa startup secara umum?

Nah, di artikel kali ini Anda akan mempelajari apa itu traction, apa fungsinya, apa saja indikator traction, dan bagaimana cara mempertahankannya.

Apa Itu Traction?

Traction adalah salah satu dari fase perkembangan sebuah startup. Umumnya startup akan menjalani tiga tahap perkembangan, yaitu Traction, Transition, dan Growth.

Pada tahap traction, yang merupakan tahap awal perkembangan startup, fokus perusahaan adalah:

  • Memastikan product market fit atau produk memiliki posisi yang baik di pasar dan dibutuhkan oleh konsumen.
  • Mengukur retention atau pelanggan yang membeli produk berulang kali.
  • Meningkatkan volume, seperti jumlah pengguna, jumlah merchant, jumlah konversi, revenue, dan lainnya.
  • Memfokuskan pemasaran pada satu channel marketing dan bereksperimen pada beberapa platform lainnya, agar promosi dapat efektif menjangkau pasar yang luas.
  • Mengoptimasi bisnis secara makro atau aspek-aspek umum, misalnya brand awareness, menggandeng partner bisnis, dan lainnya.
  • Memperkuat team development sehingga walaupun jumlah anggota tim belum banyak tapi kompeten menjalankan tugasnya.

Kalau mampu melakukan enam poin dalam fase traction di atas, maka sebuah startup akan bisa: 

  • menunjukkan tren perkembangan bisnis
  • meningkatkan brand awareness pelanggan
  • menunjukkan kredibilitas di mata mitra bisnis
  • menarik investor baru sesuai potensi bisnis yang ditunjukkan
  • membuat tim lebih semangat untuk bekerja lebih baik

Biasanya, traction startup memakan waktu sekitar 18 bulan. Namun, bisa saja berbeda sesuai dengan jenis bisnis, tim yang dimiliki, dan kemampuan pendanaan awal yang dimiliki. 

Sebagai contoh, Gojek di tahun 2010 hanya memiliki 20 mitra pengemudi dan satu call center untuk menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta. Kemudian, mereka merilis aplikasi di 2015 dan membantu menemukan titik product market fit dan poin fase traction lainnya. 

Hasilnya? Gojek mendapat pendanaan Series A dari Sequoia Capital India dan Formation Group yang membuatnya semakin berkembang seperti yang terlihat sekarang.

Baca juga: 7 Cara Memulai Bisnis Startup untuk Pemula

Apa Saja Indikator Traction?

Dengan enam poin sebagai fokusnya, sebenarnya apa saja sih indikator traction startup?

1. Revenue

Revenue yang konsisten merupakan bukti adanya traction pada startup. Namun, Revenue startup pada masa traction biasanya belum berorientasi pada keuntungan, terutama dalam beberapa tahun pertama. 

Nah, para investor sendiri biasanya lebih tertarik pada berapa revenue yang bisa dihasilkan dan diinvestasikan kembali untuk pertumbuhan bisnis, bukan laba bersih. Namun, traction startup bukan hanya dilihat dari sisi revenue. 

2. Customer Acquisition

Banyaknya konsumen yang dimiliki sebuah startup merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh investor. Bisa dari bagaimana startup mendapatkan konsumen baru, mempertahankan pelanggan yang ada, hingga memiliki konsumen yang didapat dari referral pelanggan lain.

Alasannya, dengan konsumen yang terus bertambah, peluang startup untuk berkembang menjadi lebih besar. Hal ini penting baik bagi startup itu sendiri maupun investor yang ingin memberikan dananya. 

Baca juga: Customer Value: Pengertian, Faktor, dan Cara Mengukurnya

3. Traffic dan Engagement

Dunia startup sangat erat kaitannya dengan teknologi dan internet. Jadi memiliki online presence yang baik sudah bukan lagi pilihan. 

Nah, di fase traction, online presence yang dimiliki startup minimal memberikan manfaat dua hal, yaitu traffic dan engagement

Traffic itu penting untuk mendapatkan konsumen lebih banyak, dan engagement dibutuhkan untuk membuat konsumen lebih loyal dan aware dengan brand startup.

Kalau sudah memiliki engagement pada online presence seperti contoh di atas, tentu akan sangat mudah untuk bisnis berkembang lebih baik, terutama di fase traction. 

Baca juga: Digital Marketing Metric yang Wajib Anda Ketahui

4. Inovasi

Meskipun memiliki revenue yang baik, tapi tidak memiliki inovasi produk yang keren, startup bisa saja sulit berkembang dengan cepat. Itulah kenapa masa traction adalah momentum tepat untuk menguji coba semua ide menjadi produk yang inovatif. 

Beberapa pendekatannya bisa dengan meningkatkan kualitas, menambah fitur, mengemas UI dan UX lebih user-friendly, hingga mempersingkat prosedur layanan pelanggan. 

Dengan perjalanan inovasi tersebut, investor dapat menilai bahwa potensi startup untuk berkembang lebih besar karena mampu dinamis mengikuti kebutuhan pasar. 

Baca juga: Growth Hacking: Pengertian, Strategi Lengkap, dan Contohnya [Terbaru]

5. Liputan Media

Semakin sering startup diliput media dengan berita positif, semakin banyak orang yang mengetahui kehadiran sebuah startup, baik calon konsumen maupun investor. 

Seperti Meatable, sebuah startup yang mengusung konsep budidaya daging, mendapat perhatian dan publikasi dari Cambridge Independent seperti di bawah ini:

Berita di atas selain menambah portofolio liputan media, juga menunjukkan potensi Meatable sebagai sebuah bisnis.

Agar setiap pencapaian startup dapat diliput media, maka penting bagi startup untuk menjalin komunikasi dengan portal berita atau media online. 

6. Partnership

Terutama di fase awal seperti traction, startup perlu bekerja sama dengan banyak pihak. Tujuannya, memberikan produk dan layanan terbaik bagi konsumen tanpa harus melakukan semuanya sendiri. 

Selain itu, kerjasama dengan pihak lain juga bisa mengisi kebutuhan konsumen yang bukan menjadi fokus dari produk startup tersebut. 

Contoh dari partnership yang bisa menginspirasi startup Anda adalah program Niagahoster Poin untuk pengguna setianya sebagai wujud apresiasi. Nantinya, poin yang didapatkan bisa dinikmati pada layanan lain berkat kerja sama dengan Gojek, Telkom, Grab.

Hal ini tentu bisa membangun kredibilitas bisnis, memperkuat kerja sama dengan pihak lain sekaligus meningkatkan transaksi penggunaan produk. 

Fungsi Traction dalam Startup

Selain menunjukkan potensi startup, terdapat beberapa fungsi penting traction bagi startup, yaitu:

1. Membuka Peluang Investasi

Salah satu fungsi traction adalah memperlihatkan potensi bisnis ke investor. Segala pencapaian startup pada tahap ini akan menjadi bahan pertimbangan investor. Baik dari segi revenue, jumlah user, dan lainnya.

Misalnya, jika startup memiliki jumlah konsumen yang tinggi, tetapi tingkat retention yang rendah, maka bisa jadi investor batal memberikan pendanaan karena menganggap startup tidak potensial berkembang di masa depan.

2. Meningkatkan Reputasi

Reputasi yang baik dapat membantu startup tumbuh pesat. Reputasi perlu dibangun dengan konsisten dalam hubungan dengan konsumen, mitra bisnis, calon investor dan tim di dalam startup. 

Hal itu pula yang dilakukan oleh Gojek ketika memilih bekerja sama dengan Google Maps dibanding membuat aplikasi peta sendiri. Selain itu, dengan terus menambah mitra restoran, layanan makanan mereka jadi lebih menarik konsumen dengan variasi yang dihadirkan. 

Baca juga: Budaya Kerja: Kunci Sukses Perusahaan dan Performa Karyawan

3. Meningkatkan Awareness

Traction adalah fase di mana startup menunjukkan kualitasnya dari sisi produk, layanan dan pendapatan. Tak heran, banyak liputan media yang memuat cerita startup sebagai bisnis. Ini tentu bisa meningkatkan brand awareness. 

Tidak hanya itu, inovasi produk yang dimiliki juga akan membuat konsumen tertarik. Apalagi jika hal tersebut diikuti dengan berbagai promo lewat channel media sosial atau website, bisa berupa giveaway, free trial, dan lainnya.  

4. Memacu Inovasi Bisnis

Dengan jumlah konsumen yang cukup, startup bisa melakukan inovasi bisnis dengan bantuan feedback dari konsumen. Jadi, produk yang dihasilkan bisa lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Itu mengapa produk startup di masa traction sangat dinamis, banyak update sesuai potensi pengembangan produk yang dibutuhkan. Tak hanya itu, inovasi terjadi bukan hanya pada sisi produk tapi juga strategi bisnis.

Baca juga: Belajar Cara Memasang Testimoni yang Efektif dari Brand-Brand Terkenal

10 Cara Mendapatkan Traction Startup

Terdapat beberapa cara agar startup sukses mencapai tahap traction, yaitu:

1. Fokus Memecahkan Masalah

Keberhasilan traction startup diawali dengan misi untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dijumpai konsumen. 

Sudah banyak perusahaan yang di fase ini fokus pada pemecahan masalah dan berhasil menjadi perusahaan yang sukses. Salah satu contohnya, Tokopedia yang ingin memudahkan penjual dan pembeli bertransaksi.

Jika startup berhasil mendapatkan solusi bagi permasalahan konsumen, makin banyak yang akan menggunakan produk mereka dan potensi untuk berkembang makin tinggi.

2. Melakukan Pre-Launching

Sebelum memasarkan produk atau layanan yang siap pakai secara luas, Anda sudah bisa melakukan pre-launching. 

Tujuannya, agar konsumen mengenal produk atau layanan lebih dulu, baik dari keunggulan atau keunggulan, sebelum rilis resminya.

Nah, biasanya startup menggunakan beberapa cara jitu dalam melakukan pre-launching, seperti:

  • Memberikan harga spesial
  • Menawarkan produk atau layanan ekstra tanpa tambahan biaya
  • Memberi sampel produk atau uji coba gratis layanan
  • Melakukan kompetisi atau challenge saat peluncuran untuk memenangkan produk atau layanan

3. Membuat Produk atau Layanan Unggul

Menghadirkan solusi dari permasalahan konsumen saja tidak cukup. Produk yang ditawarkan startup Anda harus lebih unggul dari kompetitor.

Misalnya, startup Sribuu yang memiliki produk aplikasi pencatatan keuangan otomatis dari rekening bank dan e-wallet pengguna, dengan teknologi AI yang dipersonalisasi untuk setiap user.

Selain itu, Sribuu mengusung layanan konsultasi keuangan untuk para user, dimana konsep tersebut masih sangat baru dan berbeda dari aplikasi financial planning lainnya. 

Itulah mengapa pada masa traction, Sribuu dapat memperoleh 45 ribu pelanggan dengan nilai valuasi lebih dari Rp2,3 Triliun.

Dengan produk tersebut, hanya dalam waktu satu tahun Sribuu sukses mendapatkan pendanaan yang lebih besar.

Baca juga: Product Development: Rahasia Menciptakan Produk Baru yang Jempolan!

4. Meningkatkan Penjualan

Pada tahap traction, startup memang tidak bisa berfokus pada revenue yang tinggi, melainkan harus fokus pada penjualan produk atau layanan. 

Tak heran, yang sering kali dilakukan adalah “bakar uang”, yaitu menggunakan dana untuk melayani konsumen dengan memberikan value lebih, misalnya free ongkir.

Nah, cara membuat traction yang biasa dilakukan startup di antaranya memberikan layanan uji coba gratis dengan membership, memberikan diskon, kode promo, hingga membuat program referral, dan lainnya. 

Ketika sudah banyak konsumen yang menggunakan produk atau layanan Anda, maka bisa mendorong promosi dari mulut ke mulut (word of mouth). Jadi, peluang mendapatkan konsumen baru pun akan semakin besar dengan langkah mudah.

5. Memperkuat Brand Awareness

Di tahap awal perkembangan bisnis, startup harus berusaha keras agar brand diketahui oleh banyak orang. Meskipun belum sampai tahap pembelian, setidaknya calon konsumen sudah familiar dengan brand Anda.

Nah, cara untuk menguatkan brand awareness pun beragam, mulai dari memberikan konten freemium, memperluas mitra, partner, berkolaborasi dengan influencer, mengadakan giveaway, dan lainnya.

6. Meningkatkan Customer Retention

Mendapatkan konsumen baru itu penting, tetapi memastikan konsumen membeli produk atau layanan kembali juga tak kalah penting?

Jika startup memiliki pelanggan setia, artinya produk atau layanan mereka memang  dibutuhkan konsumen. Hal ini tentu tidak mudah karena membutuhkan inovasi yang terus-menerus dan pemahaman konsumen yang baik.

Kalau startup mampu mempertahankan customer retention, nilai dan potensi bisnis pun akan meningkat di mata investor.

7. Masuk ke Komunitas

Salah satu cara mendapatkan traction yang paling ampuh yaitu dengan memanfaatkan community marketing. Strategi ini akan membantu startup berkomunikasi lebih interaktif dengan konsumen.

Caranya, startup bisa terlibat dalam suatu komunitas yang menjadi target pasar mereka. Komunikasinya bisa dilakukan baik online maupun offline. 

Dengan komunikasi yang baik dalam komunitas tersebut, startup dapat mengetahui apakah produk atau layanan mereka cocok dengan kebutuhan konsumen. Hal itu bisa diketahui dari feedback terkait bisnis yang diberikan anggota komunitas yang bergabung. 

8. Bangun Tim yang Kuat

Traction adalah fase yang sangat krusial untuk membentuk pondasi startup. Maka dari itu, membangun tim yang berkualitas sangat diperlukan agar perkembangan di awal bisnis dapat berhasil.

Investor tentu lebih yakin untuk memberi pendanaan jika startup memiliki tim berpengalaman dan paham strategi untuk memajukan startup.

Salah satu contoh, Ula, startup ecommerce di Indonesia memiliki empat anggota tim yang tidak diragukan lagi kompetensinya, yaitu: 

  • Nipun Mehra (CEO)- Eks Eksekutif Flipkart India dan investor Sequoia Capital India.
  • Alan Wong (CTO) – Eks Director of Software Development Booking.com, Eks Senior Software Development Engineer Amazon.
  • Derry Sakti (CCO) – Eks pengawas P&G Indonesia.
  • Riky Tenggara (COO) – Eks Lazada dan aCommerce.

Dengan pengalaman para tim inti Ula tersebut, tak heran Jeff Bezos pun tertarik untuk berinvestasi.

Baca juga: Crowdfunding: Pengertian, Kelebihan, dan Tips Menjalankannya

9. Buat Platform Resmi

Karena sangat berkaitan dengan teknologi, maka startup wajib membangun platform resmi. Baik website, web app, maupun aplikasi, dapat menjadi sarana utama konsumen mengenal produk atau layanan startup.

Untuk itu, platform resmi startup harus didesain sesuai image brand, karena akan menjadi first impression bagi pengguna.

Baca juga: Website atau Web Application : Pilih yang Mana Ya?

10. Evaluasi dan Analisis Berkala

Terakhir, startup perlu melakukan evaluasi dan analisis semua indikator traction secara rutin. Hal ini dilakukan untuk memastikan tren startup, apakah terjadi peningkatan atau justru penurunan.

Jika performa indikator traction meningkat, akan jadi modal bagus untuk menggaet investor. 

Namun jika menurun, saatnya Anda mengevaluasi dan melancarkan strategi-strategi bisnis agar penurunan dapat diatasi. Tenang, jika Anda mampu mengatasi penurunan traction, maka akan jadi nilai plus juga dimata investor.

Baca juga: 7+ Strategi Bisnis agar Anda Makin Sukses di 2021

Sedang Membangun Startup? Persiapkan Traction Anda!

Traction adalah masa awal pertumbuhan startup yang krusial. Di masa ini,  Anda perlu memperhatikan segala indikator traction untuk memastikan bisnis berjalan dengan baik, misalnya dari produk atau layanan yang ditawarkan.

Sayangnya, sebaik apapun inovasi produk yang ditawarkan, kalau Anda belum memanfaatkan channel online untuk mengenalkan produk, jumlah konsumen yang didapatkan tentu kurang optimal. 

Kalau hal ini terjadi, pertumbuhan startup bisa saja terancam dan investor bisa batal memberikan pendanaan pada perusahaan Anda.

Nah, agar inovasi Anda mampu menarik banyak konsumen, memanfaatkan website atau web app adalah pilihan terbaik. Namun, pastikan untuk menggunakan teknologi hosting yang dapat diandalkan demi menjaga kredibilitas bisnis Anda.

Nah, pilihan terbaik untuk kebutuhan Anda adalah layanan  VPS KVM Niagahoster. 

Kenapa begitu? Server VPS KVM bekerja dengan virtualisasi berbasis kernel yang dedicated untuk satu pengguna. Hal ini penting untuk menjaga agar platform apapun yang dijalankan tetap akan memberikan performanya yang optimal.

Apalagi layanan VPS KVM Niagahoster menyediakan server dengan jaminan 99,9% uptime, artinya website Anda bisa diakses selama 24 jam  penuh. 

Tak hanya itu, dengan sumber daya server yang besar menjamin skalabilitas startup Anda. Jadi, Anda bisa sewaktu-waktu melakukan perubahan pada platform website atau web app, tanpa khawatir keterbatasan sumber daya.

Bagaimana? Siap memulai tahap traction startup?

Naning Nur Wijayanti

A rare talkative person whose love writing the most. As SEO Content Writer at Niagahoster, she loved to share an articles about Internet of Things.

Share
Published by
Naning Nur Wijayanti

Recent Posts

Mengenal Industri Kreatif: Manfaat, Jenis, hingga Contohnya

Tahukah Anda bahwa industri kreatif adalah salah satu sektor yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia? Industri kreatif makin menarik banyak…

9 hours ago

Perbedaan Registry, Registrar, dan Registrant Domain

Ketika bicara domain, Anda tentu akan sampai pada bahasan perbedaan registry, registrar dan registrant. Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar bahwa…

1 day ago

Cloud Hosting vs Traditional Hosting: Manakah yang Lebih Oke?

Cloud Hosting vs Traditional Hosting kerap diadu sebagai jenis hosting terbaik. Namun sebenarnya, siapa yang lebih oke? Temukan di sini!

3 days ago

Navigasi Website: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Navigasi website adalah bagian penting desain web. Website dengan struktur navigasi yang baik bisa membuat pengunjung betah dan bahkan bisa…

4 days ago

Gutenberg 13.7 Sudah Rilis, Apa Saja Fitur Barunya?

Gutenberg, editor resmi WordPress, merilis versi terbarunya yang dinamai Gutenberg 13.7. Apa saja fitur barunya? Temukan di sini!

4 days ago

YouTube Desktop Dashboard: Cara Mengukur Performa Video Konten Terbaru

Pertanyaan ini untuk Anda yang berniat ataupun sedang merintis karier sebagai YouTuber: kira-kira, bagaimana cara Anda mengetahui perkembangan channel YouTube?…

5 days ago