Aldwin Nayoan Aldwin is a content writer at Niagahoster. Specializing in web hosting and WordPress, he is eager to help people uplevel their business on the internet. Apart from being a tech junkie, Aldwin likes fiction and photography.

Apa Itu Akuisisi? Mari Pelajari Seluk-Beluknya!

4 min read

Mengenal Metode Lean Startup yang Wajib Dipelajari Pebisnis Online

Dunia bisnis tidak bisa dipisahkan dari akuisisi, apalagi di dunia startup. Acquisition atau akuisisi adalah salah satu cara agar bisnis bisa berkembang cepat. Pun demikian, tantangan yang yang besar juga bisa muncul dari langkah yang sekilas mirip merger ini.

Apa itu akuisisi? Apakah Anda siap jika akuisisi terjadi pada bisnis/startup Anda?

Untuk itu, mari pelajari seluk-beluknya dulu. Di artikel ini, Anda akan belajar pengertian akuisisi, jenisnya, dan perbedaan merger dengan akuisisi.

Jadi, baca sampai selesai, ya! 

Apa Itu Akuisisi?

Akuisisi adalah langkah membeli sebagian besar atau seluruh perusahaan, baik dari saham atau asetnya. Nantinya, pembeli (acquirer) akan mendapatkan kendali atas perusahaan yang diakuisisi (acquiree).

Acquisition biasanya dilakukan perusahaan besar ke startup, tetapi tidak selalu harus begitu. Intinya, akuisisi adalah tentang peralihan kekuasaan pada salah satu perusahaan yang menguasai saham atau aset.

Contohnya dari akuisisi adalah yang terjadi pada Slack oleh Salesforce pada Juli 2021 dengan nilai sebesar 27,7 miliar dollar.

Ilustrasi akuisisi
Sumber: WallStreetMojo

Acquisition bisa dilakukan baik dengan atau tanpa persetujuan. Bagaimana maksudnya?

Dalam satu kondisi, acquirer bisa mengajak acquiree untuk membuat ketentuan akuisisi. Jika pihak acquiree tidak menyetujui ketentuan tersebut, akuisisi tidak jadi dilakukan.

Di kondisi lain, acquirer bisa memaksa acquiree untuk menjual saham atau asetnya dengan menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari pasar. 

Jika memungkinkan, acquirer juga bisa memanfaatkan proxy vote agar pihak acquiree menyetujui rencana acquisition. 

Proxy vote adalah keadaan di mana acquirer membujuk para pemegang saham acquiree untuk mengganti jajaran direksi perusahaan tersebut dengan individu yang menyetujui rencana akuisisi.

Lalu, apakah acquisition bisa disebut penggabungan dua perusahaan seperti yang terjadi pada merger? Jawabannya tidak. Agar lebih paham dengan perbedaan merger dan akuisisi, yuk, simak bagian selanjutnya.

Perbedaan Merger dan Akuisisi

Banyak orang beranggapan tak ada perbedaan antara merger dan akuisisi. Padahal, keduanya tidaklah sama.

Acquisition bisa terjadi antara dua perusahaan dengan atau tanpa persetujuan. Sementara merger dilakukan atas kesepakatan dua atau beberapa perusahaan untuk mengejar tujuan bersama

Selain itu, target akuisisi umumnya perusahaan yang lebih kecil, sedangkan dalam merger perusahaan-perusahaan yang bergabung cenderung memiliki skala sama.

Acquisition juga tidak menghasilkan perusahaan baru karena acquirer tetap berdiri dengan nama yang sama. Karena kondisi ini, akuisisi tidak menghasilkan saham baru.

Sebaliknya ketika terjadi merger, perusahaan yang melakukannya akan menjadi bisnis baru dengan nama dan pemilik yang ditentukan kemudian. Plus, merger juga menghasilkan saham baru.

Nah, supaya lebih jelas tentang perbedaan merger dan akuisisi, Anda bisa menyimak perbandingan di bawah ini.

Tabel perbandingan akuisisi dan merger

Jenis-Jenis Akuisisi

Acquisition bisa dibedakan menjadi beberapa macam berdasarkan objek yang diambil alih dan jenis usahanya. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Berdasarkan Objek Akuisisi

Ada dua jenis akuisisi berdasarkan objek yang diambil alih, yaitu saham dan aset.

1. Akuisisi Saham

Di jenis acquisition ini, acquirer mengambil alih acquiree dengan membeli sebagian besar sahamnya. Pembelian tersebut bisa dilakukan secara tunai maupun mengganti saham yang dibeli dengan sekuritas lainnya.

2. Akuisisi Aset

Ini adalah tindakan di mana acquirer membeli aset-aset yang dimiliki acquiree untuk mengambil alih kepemilikannya.

Berdasarkan Jenis Usaha

Ada tiga klasifikasi akuisisi berdasarkan jenis usaha yang melakukannya, yaitu horizontal, vertikal, dan konglomerat.

1. Akuisisi Horizontal

Jenis acquisition ini dilakukan antar perusahaan yang lini bisnisnya sama. Jadi, tujuan tindakan ini biasanya untuk mengurangi kompetitor dan menguatkan dominasi pasar.

2. Akuisisi Vertikal

Akuisisi disebut vertikal jika acquirer mengambil alih pemasok atau distributornya. Ini dilakukan agar pihak yang mengambil alih memiliki kendali atas rantai pasokan dan kualitasnya.

3. Akuisisi Konglomerat

Dalam jenis akuisisi ini, acquiree mengambil alih perusahaan yang lini bisnisnya berbeda. Hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan portofolio perusahaan yang mengakuisisi.

Tujuan Akuisisi

Sebenarnya, mengapa acquisition dilakukan ? Nah, ini dia lima tujuan akuisisi:

1. Mencari Celah untuk Memasuki Pasar Baru

Beberapa perusahaan memilih untuk mengambil alih perusahaan yang pasarnya berbeda. Misalnya, perusahaan IT membeli perusahaan farmasi.

Mengapa demikian? Langkah tersebut biasanya diambil ketika sebuah perusahaan ingin memasuki industri yang berbeda. Dengan acquisition, perusahaan tersebut bisa memasuki pasar yang diinginkan dengan mudah.

2. Mendapatkan Konsumen Bisnis yang Diakuisisi

Ketika mengakuisisi sebuah perusahaan, apalagi yang sudah dikenal, Anda mendapatkan konsumennya juga. Hal ini bisa jadi pilihan Anda jika kesulitan memenangkan hati konsumen target akuisisi.

Dengan demikian, Anda tidak hanya bisa menguatkan posisi bisnis di pasar, tetapi juga menghindari kompetisi dengan perusahaan yang berpotensi jadi pesaing besar. Langkah ini diambil oleh Facebook dengan mengambil alih Instagram.

3. Meningkatkan Keuntungan dengan Produk Milik Startup

Perusahaan besar bisa mengambil alih startup yang produknya inovatif, tetapi kesulitan menguatkan dominasi pasarnya.

Setelah akuisisi, perusahaan besar membantu memasarkan produk-produk milik startup sembari mendapatkan keuntungan dari tindakan itu.

Langkah tersebut dilakukan IBM, raksasa di industri software, yang diklaim meningkatkan penghasilan acquiree sebesar 40 persen dalam dua tahun pertama setelah acquisition.

4. Bertukar Pengetahuan dan Ilmu

Baik acquirer dan acquiree bisa memanfaatkan akuisisi sebagai sarana untuk bertukar pengetahuan dan ilmu. Apalagi jika kedua perusahaan bergerak di industri yang sama.

5. Mendapatkan Teknologi Baru dengan Mudah

Jika ada startup yang teknologinya unik dan bermanfaat, hal tersebut bisa menjadi alasan perusahaan besar untuk melakukan akuisisi.

Dengan mengambil alih startup tersebut, teknologi tersebut tidak akan jatuh ke tangan kompetitor. Selain itu, acquirer jadi tidak perlu bersusah-payah mengembangkan teknologi serupa. Contohnya adalah langkah Apple mengambil alih Siri yang menjadi salah satu fitur unggulan perangkat iOS.

Tantangan dalam Akuisisi

Meski ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan kedua pihak, akuisisi tidak lepas dari tantangan. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

  • Perbedaan tujuan
    Tujuan kedua perusahaan harus selaras jika menginginkan acquisition. Jika tidak, tentu akan menghambat kinerjanya. Hal tersebut bisa dicegah dengan adanya transparansi saat merundingkan akuisisi. Contohnya adalah janji Facebook untuk memberikan kebebasan kepada Instagram saat mengakuisisi platform tersebut.
  • Perbedaan budaya kerja
    Budaya kerja yang berbeda bisa menjadi tantangan dalam acquisition. Apalagi jika perusahaan besar mengakuisisi startup. Perusahaan besar cenderung memiliki sistem birokrasi yang rumit, sedangkan startup lebih lincah dalam pengembangan bisnisnya.
  • Larinya Investor yang Tidak Setuju dengan Akuisisi
    Dalam akuisisi yang disetujui, kedua perusahaan bisa saja membuat ketentuan yang disepakati. Namun, investor perusahaan target bisa saja tidak setuju karena khawatir dengan perkembangan bisnis yang tidak sesuai dengan rencana awal yang disepakati.
  • Kendala produksi karena kekurangan pemasok
    Dengan mengambil alih sumber daya perusahaan lain, produksi pasti akan meningkat. Namun, sebelumnya pastikan bahwa perusahaan akan mendapatkan cukup pasokan dari supplier jika tidak ingin produksi terhambat.

Contoh Akuisisi

Di samping tantangan-tantangan tadi, acquisition sudah umum dilakukan, baik di luar maupun dalam negeri. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Pembelian Android oleh Google pada tahun 2005.
  • Pembelian Giphy, website pencarian animasi GIF, oleh Facebook pada tahun 2020.
  • Pembelian Siri, asisten virtual yang tersedia di perangkat iOS, oleh Apple pada tahun 2010.
  • Pembelian Rabobank, sebuah bank internasional yang bercabang di Indonesia, oleh Bank Central Asia (BCA) pada tahun 2019.
  • Pembelian Bridestory, marketplace vendor kebutuhan pernikahan, oleh Tokopedia pada tahun 2019.
  • Pembelian Jualo, salah satu marketplace barang bekas Indonesia, oleh Carro, marketplace otomotif, pada tahun 2019.

Sudah Tahu Pengertian Akuisisi, Kan?

Akuisisi adalah langkah sebuah perusahaan (acquirer) mengambil alih perusahaan lain (acquiree) dengan atau tanpa kesepakatan.

Berdasarkan objek yang diambil alih, acquisition bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu akuisisi saham dan akuisisi aset. Sementara itu, berdasarkan jenis usaha yang diambil alih, ada kategori akuisisi horizontal, vertikal, dan konglomerat.

Jika Anda ingin melakukan acquisition, ada beberapa tujuan yang bisa dicapai. Di antaranya:

  • Mencari celah untuk masuk ke pasar baru
  • Meningkatkan keuntungan dengan produk milik target akuisisi
  • Mendapatkan konsumen bisnis yang diakuisisi
  • Bertukar pengetahuan dan ilmu
  • Mendapatkan teknologi baru dengan mudah

Nah, setelah acquisition, perusahaan startup biasanya bertumbuh dengan cepat. Misalnya seperti Gojek yang tadinya hanya menawarkan satu layanan dan kini menjadi super app.

Jika ingin membuat aplikasi web yang berisi berbagai layanan, tentunya Anda butuh layanan hosting yang memiliki performa tinggi dan aman. Nah, VPS KVM adalah pilihan yang tepat untuk kebutuhan itu.

VPS KVM bisa memaksimalkan kinerja aplikasi web Anda dengan resource besar yang terdedikasi. Ditambah lagi, servernya terletak di Indonesia, sehingga pengguna lokal bisa mengakses aplikasi Anda dengan kecepatan optimal.

Selain itu, VPS KVM memiliki sistem backup mingguan otomatis. Dengan demikian, duplikat data website selalu tersedia.

Menariknya, Anda bisa mendapatkan hosting VPS KVM di Niagahoster mulai dari Rp90.000 per bulan saja. Tertarik? Cek paketnya dengan klik tombol di bawah ini!

Aldwin Nayoan Aldwin is a content writer at Niagahoster. Specializing in web hosting and WordPress, he is eager to help people uplevel their business on the internet. Apart from being a tech junkie, Aldwin likes fiction and photography.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *