Categories: Marketing

25+ Model Bisnis untuk Membangun Usaha Anda

Katakanlah Anda ingin memulai sebuah bisnis. Model bisnis apa yang akan Anda gunakan?

Jika Anda belum mampu menjawabnya, mungkin usaha Anda belum memiliki konsep bisnis yang jelas. Padahal, menentukan model bisnis sangat penting agar bisnis dapat terus berkembang.

Selain itu, hampir semua perusahaan besar di dunia meraih sukses berkat memilih model yang tepat untuk bisnis mereka. Lalu, apa sebenarnya model bisnis itu?

Di artikel ini, kami akan mengajak Anda untuk belajar tentang model bisnis, manfaat menggunakannya dan berbagai jenisnya. Mari simak lebih lanjut!

Apa itu Model Bisnis?

Model bisnis adalah sebuah konsep dasar tentang bagaimana bisnis akan dijalankan, baik secara internal maupun eksternal.

Secara internal, model bisnis menentukan bagaimana organisasi bisnis akan dibangun agar usaha yang dijalankan mampu terus tumbuh dengan baik. Sedangkan secara eksternal, model bisnis membantu menentukan value apa yang ditawarkan kepada konsumen dan bagaimana cara memperoleh laba dari usaha yang dijalankan.

Model bisnis bukan hanya sebuah rencana bisnis yang mencatat visi-misi saja. Lebih jauh, model bisnis membantu Anda menciptakan cara mendapatkan profit.

Dengan menentukan model yang tepat, bisnis yang Anda bangun akan memiliki tujuan yang jelas. Anda jadi tahu siapa saja konsumen yang menjadi target pasar Anda dan bagaimana business process harus dilakukan.

Nah, untuk dapat membangun sebuah model bisnis yang baik, Anda perlu menjawab tiga pertanyaan utama, yaitu:

  • Jenis produk apa yang akan dihasilkan? Apakah ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja dapat terpenuhi dengan baik?
  • Bagaimana strategi promosi dan distribusinya agar produk dapat menjangkau konsumen dengan baik?
  • Apa strategi harga yang ingin digunakan? Cara pembayaran apa yang ingin digunakan?

Semua pertanyaan tersebut sering dijawab menggunakan kanvas model bisnis yang terdiri dari 9 komponen model bisnis yaitu:

  1. Value proposition. Manfaat yang akan diterima konsumen dari bisnis Anda.
  2. Customer segmentation. Target pasar dari produk yang akan ditawarkan.
  3. Channel. Media yang digunakan untuk menjangkau konsumen.
  4. Customer relationship. Cara menjaga hubungan baik dengan konsumen.
  5. Revenue streams. Sumber penghasilan usaha.
  6. Key resources. Sumber daya yang diperlukan agar bisnis dapat berjalan.
  7. Key activities. Semua kegiatan bisnis yang dilakukan.
  8. Partnership. Rekan kerja yang membantu bisnis berjalan.
  9. Cost structure. Pengeluaran dari aktivitas bisnis yang dilakukan.

Nah, setelah belajar tentang pengertiannya, mari pelajari lebih lanjut jenis model bisnis.

Ada banyak jenis model yang bisa diterapkan sesuai dengan bisnis Anda. Untuk memudahkan, kami akan membaginya menjadi beberapa kelompok utama.

Model Bisnis Berdasarkan Produksinya

Ini dia beberapa jenis model bisnis berdasarkan kegiatan produksinya:

1. Manufaktur

Dalam model bisnis manufaktur, Anda membuat sebuah produk dan menjualnya untuk mendapatkan laba. Biasanya produksi barang dilakukan dengan menggunakan mesin produksi.

Ketika menjalankan bisnis manufaktur, Anda bisa menjual barang secara langsung ke konsumen atau menggunakan perantara pihak ketiga.

Contoh perusahaan yang melakukan penjualan langsung adalah Nike dan Apple. Kedua perusahaan ini memiliki pabrik untuk menciptakan produk dan toko untuk menjual produknya sendiri, contohnya Apple Retail Store.

Di sisi lain, Intel, produsen prosesor komputer lebih sering menjual produk secara tidak langsung ke konsumen. Pada umumnya, konsumen tidak membeli produk Intel secara langsung, tapi melalui sebuah produk laptop yang terdapat prosesor Intel di dalamnya.

Tantangan yang mungkin Anda hadapi ini adalah kemampuan untuk terus mendapatkan resources (bahan baku)  agar produksi berjalan lancar.

2. Distributor

Sesuai namanya, distributor adalah model bisnis yang aktivitas utamanya adalah mendistribusikan produk. Artinya, mereka tidak memproduksi sendiri barang yang dijual.

Kunci utama bisnis ini adalah kemampuan menjalin kerja sama dengan perusahaan manufaktur agar bisa mendistribusikan produk. Beberapa distributor ada yang bekerja sama dengan banyak supplier sekaligus. Ada juga yang khusus menjadi distributor resmi suatu produk.

Contoh perusahaan distributor di Indonesia adalah PT TAM yang bergerak pada distribusi ponsel. Perusahaan distributor ini merupakan mitra dari berbagai perusahaan seperti Samsung, Xiaomi, dan Blackberry yang pernah booming di Indonesia.

Jadi, Anda ini tidak menjual produk langsung ke konsumen. Sebagai distributor, Anda menjual produk melalui satuan bisnis yang lebih kecil yang disebut retailer.

3. Retailer

Retailer adalah model bisnis yang membeli produk dari distributor dan menjualnya kembali ke konsumen. Bisa dikatakan retailer adalah penghubung antara produsen (manufaktur) dan konsumen.

Model bisnis retail bisa diterapkan pada bisnis dengan skala kecil-menengah maupun besar. Mulai dari toko yang Anda jalankan dari rumah hingga perusahaan ritel besar seperti Indomaret, Alfamart, Trikomsel Oke, dan lainnya.

Retailer bisa menyasar pada segmentasi konsumen yang umum atau khusus. Contohnya, Trikomsel Oke fokus ke konsumen yang memiliki kebutuhan gadget untuk komunikasi.

Jika Anda ingin menjadi retailer, pastikan ketersediaan resource seperti gudang terjamin dengan baik. Jika tidak demikian, aktivitas bisnis dapat terganggu.

4. Franchise

Model bisnis ini lebih dikenal dengan istilah waralaba. Konsepnya ketika seseorang ingin memulai bisnis, tidak perlu membuat bisnis sendiri dari awal. Namun, cukup menggunakan model yang sudah ada dari brand tertentu, dan membayar uang kompensasi kerjasama yang dilakukan.

Pihak yang memiliki bisnis dengan brand disebut franchisor dan yang menggunakan brand bisnis disebut franchisee.

Salah satu contoh bisnis franchise adalah Mc Donalds.

Bagi pebisnis pemula, menggunakan franchise memang lebih mudah karena tinggal menjalankan usaha saja. Semua komponen usaha sudah ditentukan dengan jelas oleh pihak franchisor. Namun, Anda harus cermat dalam memilih franchisor yang menguntungkan.

Di sisi lain, Anda juga bisa menciptakan sebuah bisnis franchise Anda sendiri.

Salah satu contohnya adalah bisnis farmasi Apotek K24. Anda bisa memulainya dengan membuka bisnis yang mampu menarik konsumen. Dan setelah berkembang, Anda bisa menawarkan kerjasama franchise kepada pihak lain.

5. White Label

Model bisnis ini hampir mirip dengan franchise. Bedanya, pada white labeling, Anda bebas untuk menggunakan brand Anda sendiri.

Biasanya, perusahaan yang menawarkan bisnis white labeling akan menjual produknya khusus ke reseller, bukan konsumen akhir.

Kenapa ada pebisnis yang melakukan white labeling?

Alasannya, pebisnis tersebut bisa lebih fokus pada produksi barang dan jasa tanpa memikirkan metode pemasaran yang harus dilakukan. Di sisi lain, konsumen white labeling bisa menjual produk kualitas terbaik tanpa repot melakukan produksi sendiri.

Bisnis ini bisa diterapkan pada berbagai jenis produk seperti fashion, kerajinan tangan dan lainnya. Contoh perusahaan besar yang menggunakan White Label adalah Foxconn yang membuat produk elektronik ke berbagai distributor seperti Apple.

Model Bisnis Berdasarkan Fisiknya

Dilihat dari bentuk fisiknya, inilah beberapa model bisnis yang bisa Anda temui:

6. Brick and Mortar

Inilah model bisnis tradisional yang menjual barang dan jasa melalui toko fisik. Artinya, transaksi dilakukan ke konsumen akhir secara tatap muka langsung. Brick and Mortar ini bisa digunakan oleh produsen, distributor dan lainnya.

Contoh dari bisnis ini adalah toko kelontong, SPBU, dan lainnya.

Model bisnis ini sudah dikenal oleh masyarakat sehingga relatif banyak digunakan. Pada praktiknya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama dalam menggunakan model bisnis ini yaitu: kualitas produk, layanan, lokasi usaha, dan harga.

Tantangan dari bisnis ini adalah munculnya bisnis online yang bisa dilakukan tanpa batasan waktu operasional dan lokasi usaha.

7. eCommerce

Sesuai namanya, ecommerce (electronic commerce) adalah sebuah bisnis di mana penjual dan pembeli melakukan transaksi secara online. Dengan kata lain ecommerce adalah model bisnis toko online.

Model bisnis ini adalah perkembangan dari brick and mortar yang muncul seiring kemudahan akses internet. Jika brick and mortar memiliki wujud fisik baik toko maupun gudang, ecommerce menggunakan pendekatan digital.

Untuk toko misalnya, Anda bisa menggunakan website toko online yang memajang semua produk yang dijual. Bahkan, jika produk yang Anda jual adalah produk digital seperti ebook, Anda tak lagi membutuhkan gudang sebagai tempat penyimpanan.

Saat ini banyak sekali jenis bisnis yang menggunakan pendekatan ecommerce, seperti Rabbani di bidang fashion, dan Gramedia Online yang menjual buku digital.  Bisa dikatakan ecommerce merupakan salah satu jenis bisnis paling menjanjikan saat ini.

Baca Juga: Langkah Membuat Toko Online dengan Mudah

8. Bricks and Clicks

Model bisnis ini sebenarnya gabungan dari mortar and bricks dan ecommerce. Bricks and clicks adalah sebuah usaha yang memiliki toko offline dan toko online secara bersamaan.

Salah satu yang mendasari lahirnya model bisnis ini adalah keinginan untuk menyediakan kemudahan belanja online bagi konsumen sekaligus tetap mempertahankan konsep belanja offline yang sudah biasa dilakukan.

Beberapa bisnis yang menerapkan model bisnis ini adalah bisnis fashion, penjualan obat, dan lainnya.

9.  Marketplace

Marketplace adalah sebuah model bisnis yang memfasilitasi bertemunya penjual dan pembeli secara online dengan menggunakan website atau platform khusus milik pihak ketiga.

Beberapa contoh marketplace di Indonesia adalah Tokopedia dan Bukalapak.

Marketplace umumnya memiliki banyak penjual yang tergabung dalam satu platform dan menawarkan produk yang hampir sama. Secara umum, marketplace akan mendapatkan keuntungan dari komisi untuk setiap transaksi yang dilakukan.

Di sisi lain, jika Anda ingin berjualan menggunakan marketplace, cukup memilih platform yang ingin diikuti dan melakukan registrasi. Meskipun banyak digemari pebisnis pemula, ada beberapa kelemahan dalam platform ini yaitu persaingan yang ketat dan margin laba yang kecil.

Baca Juga: Apa itu Marketplace? Penjelasan Lengkap!

10. Dropship

Salah satu model bisnis yang juga dilakukan online adalah dropship. Ketika menggunakan dropship, Anda bukan hanya tidak memerlukan toko fisik, tapi juga bisa menjalankannya tanpa memiliki gudang.

Sebagai dropshipper, Anda menjual produk pihak lain kepada konsumen melalui toko online Anda. Berbeda dengan reseller, supplier-lah yang mengirimkan barang langsung ke konsumen. Artinya, tidak ada aktivitas menyimpan barang yang perlu Anda lakukan.

Pendapatan seorang dropshipper berasal dari selisih keuntungan dari yang diberikan konsumen ke yang dibayarkan ke supplier. Dropshipping adalah model bisnis yang bisa dilakukan tanpa modal dengan banyak pilihan produk. Namun, margin keuntungannya relatif kecil.

Baca Juga: Ide Bisnis Dropship yang Menguntungkan

11. Affiliasi

Model bisnis afiliasi hampir mirip dropship, yaitu menjual produk pihak lain. Bedanya, afiliasi lebih berperan dalam upaya promosi agar konsumen mau membeli produk tertentu. Dan, pendapatan affiliate berasal dari komisi penjualan produk.

Jika Anda menjadi affiliate, Anda perlu bergabung ke salah satu program afiliasi dulu. Salah satunya, Program Afiliasi Indonesia dari Niagahoster.

Setelah bergabung, Anda cukup mempromosikan produk menggunakan kode dan banner khusus. Langkah promosinya bisa dilakukan melalui blog atau media sosial. Setiap kali ada pembelian menggunakan kode yang Anda bagikan, Anda akan mendapatkan komisi.

Besaran komisi tergantung program yang diikuti. Program Afiliasi Indonesia misalnya, memberikan komisi 70% dari setiap penjualan hosting dan domain yang berhasil!

Model Bisnis Berdasarkan Sumber Revenue

Inilah beberapa jenis model bisnis dengan pendekatan cara menghasilkan laba yang berbeda. Apa saja?

12. Freemium

Anda pasti sudah bisa menebak bahwa freemium adalah sebuah bisnis yang menawarkan layanan gratis sekaligus premium dalam satu produk.

Jenis model bisnis ini banyak ditemui pada bisnis online. Salah satunya adalah layanan penyimpanan berbasis cloud, DropBox. Pengguna bisa menggunakan DropBox Basic dengan kuota penyimpanan 2GB yang gratis digunakan sampai kapanpun.

Jika ingin mendapatkan storage lebih banyak dan fitur lebih lengkap, pengguna harus melakukan upgrade paket premium mereka.

Baca Juga: Kiat Mudah Backup WordPress Menggunakan DropBox

13. Subscription

Model bisnis ini mendapatkan penghasilan dari biaya berlangganan yang dibayarkan oleh konsumen, baik bulanan maupun tahunan.

Hampir semua bisnis jasa bisa menggunakan model bisnis ini, tapi yang paling populer adalah bisnis edukasi dan bisnis hiburan yang diakses secara online. Contohnya, adalah Netflix.

Model bisnis ini cukup menguntungkan baik bagi konsumen dan pebisnis. Konsumen akan lebih tertarik untuk menggunakan layanan kapan saja dengan harga relatif terjangkau. Sedangkan, pebisnis bisa mendapatkan keuntungan yang terukur berdasarkan banyaknya konsumen yang dimiliki.

14. Hidden Revenue

Salah satu bisnis yang menggunakan model bisnis hidden revenue adalah YouTube dari Google.

Platform digital ini bisa digunakan gratis oleh konsumen sampai kapanpun. Peran pengguna tidak terlalu diperhitungkan bagi perusahaan dalam upaya mendapatkan laba.

Lalu, bagaimana YouTube mendapatkan penghasilan?

Jawabannya, dari iklan. Ketika Anda menggunakan YouTube, Anda akan disuguhi iklan berbagai produk. Biaya pemasangan iklan inilah yang menjadi revenue streamnya.

Kenapa banyak perusahaan mau memasang iklan di platform ini? Jumlah pengguna nya sangat banyak dan tingkat penggunaannya sangat tinggi. Jadi, memasang iklan di YouTube memberikan keuntungan berupa eksposur yang lebih baik bagi bisnis.

Model Bisnis Berdasarkan Strategi Harga

Model bisnis berdasarkan strategi harganya terdapat dua jenis yaitu:

14. Razor Blade

Model bisnis razor blade menggunakan strategi di mana produk utama berharga murah, bahkan gratis. Namun, produk pendukung berharga lebih tinggi dan digunakan untuk mendapatkan laba. Model bisnis ini sering disebut sebagai bait and hook alias umpan-kail.

Model bisnis ini menggunakan strategi lock-in, yaitu produk utama dan produk pendukung harus saling melengkapi satu sama lain. Artinya, konsumen hanya bisa membeli produk pendukung dari produsen yang sama.

Jenis produk yang biasanya menggunakan strategi ini adalah yang menerapkan sistem refill atau isi ulang. Contohnya alat cukur (Gillette), printer (HP dan Canon), hingga kartu operator seluler (Telkomsel, dll).

Semua produk utama ini dijual dengan harga standar. Namun, pengguna diharuskan membeli produk pendukung agar dapat terus menggunakannya, yaitu pisau cukur, tinta, atau isi ulang pulsa.

15. Reverse Razor Blade

Inilah model bisnis yang berlawan dari strategi razorblade. Reversed razorblade memberi harga produk utama yang cukup tinggi, tapi memberikan banyak keuntungan konsumen dalam menggunakan produk pendukung.

Contoh perusahaan yang menggunakan Reverse Razor Blade adalah Apple.

Berbagai produknya, seperti Macbook Air, dihargai cukup mahal untuk sekelas laptop dengan spesifikasi tertentu. Namun, pengguna bisa menggunakan produk pendukung seperti aplikasi email, maps, organizer dan lainnya tanpa mengeluarkan biaya lagi. Bahkan beberapa aplikasi dengan kualitas terbaik bisa ditambahkan dengan gratis melalui App Store.

16. Nickel and Dime

Model bisnis ini menjual sebuah produk utama dengan harga terjangkau sekaligus menawarkan berbagai fitur tambahan. Pada akhirnya, biaya yang dibayarkan konsumen jauh lebih tinggi dari harga standar, sesuai permintaan konsumen.

Jenis model bisnis ini bisa diterapkan pada bisnis online maupun offline. Contoh bisnis online yang menggunakan Nickel and Dime adalah Salesforce, perusahaan pembuat software CRM.

Meskipun konsumen bisa menggunakan software Salesforce dengan baik, untuk menunjang pekerjaan diperlukan beberapa integrasi dengan aplikasi pihak ketiga lainnya.

Anda bisa saja menerapkan model bisnis ini pada bisnis kuliner. Misalnya, Anda berjualan nasi goreng standar. Lalu, Anda bisa menawarkan berbagai topping seperti sosis atau bakso untuk menu tersebut dengan harga tersendiri.

Model Bisnis Berdasarkan Interaksi dengan Konsumen

Berikut ini beberapa jenis model bisnis terkait dengan interaksinya dengan konsumen:

17. High Touch

Jenis model bisnis ini memerlukan banyak interaksi dengan konsumen dalam aktivitasnya. Artinya, ketika menjalankan bisnis ini, resource sumber daya manusia yang diperlukan cukup besar. Bahkan, peran sumber daya manusia cukup besar dalam membuat bisnis berkembang untuk jangka panjang.

Contoh dari model bisnis ini adalah salon kecantikan dan jasa konsultasi.

Untuk dapat membangun bisnis high touch dengan baik, pastikan Anda memiliki sumber daya manusia yang berkualitas agar mampu memberikan hasil terbaik. Dengan demikian, akan membuat konsumen puas sehingga kepercayaan terhadap bisnis bisa dibangun dengan baik.

18. Low Touch

Berbeda dengan high touch, low touch justru mengembangkan model bisnis yang tidak begitu banyak membutuhkan interaksi dengan konsumen. Artinya, baik dalam tahapan penjualan maupun  penggunaan produk, bisa dilakukan sendiri oleh konsumen. Hal ini dilakukan dengan berbagai pendekatan otomasi menggunakan kecanggihan teknologi.

Salah satu contoh bisnis yang menggunakan pendekatan ini adalah Survey Monkey, penyedia platform survey online.

Dengan platform yang intuitif, tidak terlalu sulit bagi konsumen untuk  membuat sendiri survey sesuai yang mereka perlukan. Layanan ini bersifat freemium dengan batasan jumlah pertanyaan dan response.

Namun, untuk kebutuhan tingkat lanjut, konsumen cukup menggunakan paket premium dengan jumlah pertanyaan dan response unlimited serta fitur tambahan seperti A/B testing.

Model Bisnis Berdasarkan Strategi Produk

Berikut ini adalah beberapa model bisnis yang menggunakan strategi produk:

19. Blue Ocean Strategy

Blue Ocean adalah model bisnis yang menciptakan produk baru dengan pendekatan market berbeda. Tujuannya, menghindari persaingan yang tajam dan merangsang hadirnya “pasar baru” dengan biaya pemasaran yang rendah.

Contoh dari model bisnis ini adalah Nintendo Wii. Alih-alih berkompetisi dengan Microsoft Xbox dan Sony Playstation, Nintendo membuat Wii untuk pangsa pasar non-gamers. Artinya, produk ini memang diciptakan untuk pengguna casual yang lebih mementingkan keseruan bermain game daripada pencapaian level layaknya game enthusiast.

20. Renting Business

Model bisnis ini sebenarnya tidak asing bagi Anda. Namun, Anda tentu baru menyadari bahwa bisnis rental bisa digunakan untuk lingkup jenis bisnis yang lebih luas. Tidak hanya berupa barang tapi juga jasa. Dan, tidak hanya secara offline tapi juga online.

Salah satu platform yang menggunakan renting business adalah Spotify, layanan musik streaming. Alih-alih membeli musik secara langsung baik melalui CD maupun streaming, Spotify memungkinkan Anda mendengar banyak koleksi lagu dengan sistem berlangganan.

21. Peer-to-Peer

Model bisnis peer to peer didasari pada sebuah kemitraan menggunakan platform tertentu yang mempertemukan supply dan demand. Artinya, kebutuhan konsumen dipenuhi oleh pihak lain dengan menggunakan pihak ketiga.

Salah satu contoh bisnis peer to peer adalah Gojek dan AirBnb. Pada dasarnya, Gojek tidak memiliki armada transportasi yang digunakan dan hotel yang dimuat di website AirBnb bukanlah milik platform tersebut. Keduanya hanya menyediakan platform yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan konsumen dan memperoleh penghasilan dari komisi per transaksi yang terjadi.

22. Social Entrepreneurship

Jenis model bisnis ini sering disebut juga sebagai one-for-one. Artinya, bisnis tersebut akan menyumbangkan satu produk ke orang yang membutuhkan atas setiap satu penjualan produk yang berhasil.

Model bisnis ini memadukan pendekatan bisnis yang bersifat profit dan nonprofit sekaligus. Jadi, mendapatkan laba sambil membangun kesadaran sosial untuk berbagi. Contoh dari bisnis ini adalah Toms Shoes.

Strategi mereka untuk menyumbang sepatu kepada anak yang membutuhkan dari penjualan produk, membuat konsumen tak segan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Tak jarang, banyak yang menjadi pelanggan setia.

Model Bisnis Berdasarkan Kemitraannya

Inilah berbagai model bisnis dikelompokkan berdasar kemitraan yang dilakukan:

23. Business to Business (B2B)

Sesuai namanya, B2B adalah model bisnis yang dibangun dengan kemitraan dengan pebisnis lain. Artinya, transaksi pembelian dilakukan antar pebisnis, baik perusahaan manufaktur dengan distributor, atau distributor dengan retailer.

Salah satu contoh bisnis B2B adalah antara Samsung dan Apple. Meskipun sama-sama bergerak di bisnis gadget, Samsung banyak menjual berbagai produk yang digunakan Apple untuk membuat iPhone.

Baca Juga: Tips B2B Marketing untuk Pengembangan Bisnis

24. Business to Consumer (B2C)

Di dalam model bisnis B2C, pebisnis menjual produk mereka kepada konsumen akhir. Contoh yang paling sering kita temui adalah bisnis kuliner, di mana penjual langsung menjual produk kepada konsumennya.

Pada perkembangannya, B2C menjangkau lebih banyak jenis bisnis dan dapat dilakukan secara online, terutama dengan banyaknya toko online yang menjual berbagai kebutuhan konsumen.

Baca Juga: Tips Marketing B2C untuk Bisnis Anda

25. Consumer to Business (C2B)

Sebaliknya, model bisnis C2B memungkinkan konsumen untuk menjual produk kepada pebisnis. Tentu saja yang dimaksud tidak hanya berupa barang atau jasa tapi bisa berupa data, partisipasi dan  bantuan promosi.

Salah satu contohnya adalah penjualan produk digital melalui situs microstock. Di mana pemilik foto bisa mengunggah hasil karyanya untuk dijual melalui situs seperti istockphoto dan lainnya.

Tidak hanya itu, C2B juga bisa ditemui pada saat pengguna internet melakukan survey berbayar yang dilakukan oleh sebuah situs survey online.

26. Consumer to Consumer (C2C)

Model bisnis C2C menciptakan transaksi penjualan produk dari satu konsumen ke konsumen lainnya. Biasanya hal ini dilakukan dalam sebuah platform khusus yang digunakan bersama.

Salah satu contoh C2C adalah jual beli online yang dilakukan menggunakan website/aplikasi OLX. Penjual memasang foto produk di platform untuk menarik pembeli dan semua transaksi bisa dilakukan tanpa melibatkan pihak ketiga.

Model Bisnis Lainnya

27. MLM (Multi Level Marketing)

Model bisnis ini memanfaatkan jaringan konsumen untuk menjual produk. Laba yang dihasilkan berasal dari sistem komisi yang diterapkan platform yang diikuti.

Menggunakan struktur piramida jaringan, Anda akan mendapatkan pendapatan saat berhasil menjual produk dan saat downline Anda juga berhasil menjual produk.Downline adalah orang berhasil Anda rekrut untuk sama-sama menjual produk.

Sebagian besar bisnis MLM dilakukan dengan sistem penjualan langsung ke konsumen. Salah satu contoh bisnis yang menggunakannya adalah Amway.

28. Crowdsourcing

Crowdsourcing adalah sebuah model bisnis yang menggunakan partisipasi banyak pengguna internet (crowd) untuk menghasilkan produk yang dapat dijual kembali. Biasanya, pebisnis membayar jasa dari peserta crowdsourcing atas sebuah pekerjaan sederhana yang dilakukan dalam jumlah banyak.

Salah satu perusahaan yang menggunakan model crowdsourcing dalam bisnis adalah 2Captcha. Bisnis ini menyediakan layanan keamanan online captcha bagi berbagai perusahaan yang membutuhkan verifikasi manusia (human verification).

29. Agency

Agency adalah sebuah model bisnis yang menyediakan jasa pengerjaan sebuah proyek khusus untuk jangka waktu tertentu. Kekuatan dari jenis model ini adalah keahlian dan pengalaman atas satu jenis pekerjaan.

Berbeda dengan bisnis jasa lain, pekerjaan yang dilakukan oleh bisnis agency bersifat khusus per klien. Biasanya perusahaan menggunakan jasa agency untuk menyelesaikan pekerjaan pendukung yang tidak dapat dikerjakan sendiri.

Jenis pekerjaan yang membutuhkan jasa agency antara lain: pembuatan website, content marketing, advertising, dan lainnya. Contoh perusahaan agency adakah Brafton dan Chubby Rawit.

Baca Juga: 15+ Hal Penting untuk Memulai Jasa Pembuatan Website

Manfaat Model Bisnis

Setelah mengetahui berbagai jenis model bisnis yang bisa Anda gunakan, Anda pasti sudah memahami berbagai manfaat menggunakannya.

1. Mengetahui Target Pasar bagi Penjualan Produk

Model bisnis menuntun Anda untuk menentukan value proposition. Komponen ini akan membantu Anda mengetahui bagaimana produk Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan pelanggan.

Selanjutnya, Anda bisa melakukan segmentasi pelanggan yang lebih spesifik. Semakin jelas model bisnis Anda, semakin mudah mengetahui target pasar yang harus dituju.

Baca Juga: Pentingnya Menentukan Target Pasar Bisnis

2. Memahami Produk yang Harus Diciptakan

Dengan menggunakan model bisnis yang jelas, Anda tak perlu lagi terjebak pada penciptaan produk yang tidak diperlukan konsumen. Hal tersebut tentu tidak memberikan manfaat bagi perkembangan bisnis Anda.

Selain itu, semakin jelas target pasar dan value proposition produk Anda, semakin jelas jenis produk apa yang harus dihasilkan.

3. Mengetahui Strategi Bisnis yang Harus Dijalankan

Model bisnis yang Anda pilih akan secara otomatis turut menentukan strategi bisnis yang harus dijalankan.

Misalnya, jika Anda seorang distributor, maka strategi Anda bukanlah cara menarik konsumen. Namun, cara menjalin hubungan ke lebih banyak produsen secara dekat.

Selain itu, Anda harus mampu bekerja sama dengan banyak retailer dan mampu menciptakan jalur distribusi yang cepat dan efektif.

Baca Juga: 7 Strategi Bisnis untuk Kesuksesan Anda

4.  Mengantisipasi Persaingan

Tanpa menggunakan model bisnis, akan sulit menentukan posisi bisnis Anda di pasar. Hasilnya, bisa saja Anda harus menghadapi persaingan yang belum Anda perhitungkan.

Dengan menggunakan model bisnis, Anda juga mampu memahami persaingan Anda dalam mendapatkan resources dan menjual produk ke konsumen. Hal ini sangat penting untuk bisa menentukan strategi bisnis yang tepat berdasar model yang dipilih.

Penutup

Banyak juga ya jenis model bisnis yang bisa Anda pilih? Penjelasan di atas juga sudah cukup lengkap sebagai bahan pertimbangan untuk menjalankan bisnis Anda.

Menariknya, sebuah bisnis bisa menggunakan lebih dari satu model seiring dengan perubahan pasar dan strategi bisnis yang berbeda.

Mengingat pentingnya menggunakan model bisnis, kami merekomendasikan penggunaannya ketika Anda akan memulai usaha. Dan, karena setiap bisnis berbeda, sesuaikan dengan kondisi yang Anda hadapi, baik pada saat membuat kanvas model bisnis, maupun saat menentukan jenisnya.

Ingin model bisnis yang Anda pilih dapat berjalan dengan baik? Jangan lupa untuk membaca Panduan Kiat Sukses Bisnis Online 2020 melalui Ebook yang bisa Anda download gratis!

Semoga informasi yang kami berikan bermanfaat. Sukses selalu untuk bisnis Anda!

Suryadi Kurniawan

Suryadi is a digital content writer at Niagahoster. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about WordPress, Internet Marketing and other IT-related issues. During his free time, he enjoys playing Clash Royale a lot.

Share
Published by
Suryadi Kurniawan
Tags: model bisnis

Recent Posts

7 Cara Menulis Deskripsi Produk yang Jitu dan Menjual

Ketika berbisnis online, entah di marketplace atau website, banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk menunjang penjualan. Salah satunya, menulis…

19 hours ago

Panduan Lengkap Facebook Shop untuk WooCommerce Bagi Pemula (2020)

Anda sudah memiliki website WooCommerce, tapi belum memanfaatkan platform lain untuk memasarkan bisnis? Kami sarankan Anda untuk menggunakan Facebook Shops. …

2 days ago

Ingin Menjadi WordPress Developer? Ini Dia Tipsnya!

WordPress dikenal sebagai salah satu CMS (Content Management System) terbaik. Lebih dari 34 persen seluruh website di internet saat ini…

3 days ago

10 Rekomendasi CSS Framework Terbaik untuk Developer

Desain front-end menjadi bagian yang sangat penting di website atau aplikasi. Bukan cuma untuk meningkatkan impresi positif suatu brand saja.…

3 days ago

Ingin Punya Blog Keren Tanpa Ribet? Bikin di WordPress Aja!

Pernahkah Anda mengunjungi blog dengan tampilan yang memukau dan konten yang menarik? Saking bagusnya blog tersebut, Anda jadi terinspirasi untuk…

4 days ago

Rahasia Sukses UMKM Go Online: Siapkan 4 Hal Ini!

Tahukah Anda? Persentase UMKM di Indonesia yang sudah go online baru sekitar 15% saja. Atau lebih tepatnya, hanya 9,4 juta…

5 days ago